<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ADcount</title>
	<atom:link href="http://adcount.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adcount.wordpress.com</link>
	<description>Just another ADcount at WordPress.com</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2009 21:14:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='adcount.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/73176174f379fa86c3688c87acf3dcbf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ADcount</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Manajemen Kreatif Bag 2 &#8211;  Memunculkan Ide Kreatif</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2009/09/06/manajemen-kreatif-bag-2-memunculkan-ide-kreatif/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2009/09/06/manajemen-kreatif-bag-2-memunculkan-ide-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 20:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Isi Otak]]></category>
		<category><![CDATA[Arista Diki]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[creation]]></category>
		<category><![CDATA[creative]]></category>
		<category><![CDATA[divergen]]></category>
		<category><![CDATA[edesain]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[konvergen]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[nyeleneh]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Kreatif, seperti telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, membutuhkan pemahaman yang baik terhadap 2 pola pikir yakni, konvergen dan divergen. Padahal kedua pola pikir tersebut saling bertentangan. Mengapa? Karena dari kedua pola pikir itulah sebuah ide kreatif baru dan cemerlang muncul hingga akhirnya dapat terealisasi.
Sebuah ide kreatif seringkali disebut sebagai ide yang “out of the box”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=46&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kreatif, seperti telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, membutuhkan pemahaman yang baik terhadap 2 pola pikir yakni, konvergen dan divergen. Padahal kedua pola pikir tersebut saling bertentangan. Mengapa? Karena dari kedua pola pikir itulah sebuah ide kreatif baru dan cemerlang muncul hingga akhirnya dapat terealisasi.</p>
<div id="attachment_49" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img class="size-full wp-image-49" title="apa-yang-didalam-kotak" src="http://adcount.files.wordpress.com/2009/09/apa-yang-didalam-kotak.jpg?w=225&#038;h=225" alt="ilustrasi-apa-yang-didalam-kotak" width="225" height="225" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi apa yang didalam kotak</p></div>
<p>Sebuah ide kreatif seringkali disebut sebagai ide yang “out of the box”. Disebut demikian karena pada umumnya ide kreatif berbeda dari sesuatu yang telah ada atau telah ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini dapat disebut sebagai hal yang “inside the box”. Begitu juga alasan mengapa ide kreatif pada awalnya sering dianggap ‘nyeleneh’, tidak sesuai dengan tatanan yang sudah ada. Anggapan-anggapan tersebut makin menguat ketika dikaitkan dengan orang yang mencetuskannya atau sang kreator, yang banyak diantaranya memiliki karakter yang unik atau yang dianggap lebih banyak memiliki pemikiran divergen. Tetapi apakah memang ide kreatif hanya milik orang-orang dengan karakter yang unik? Padahal setiap orang secara fundamental adalah unik (berbeda dari yang lain) dan memiliki kedua pola pikir konvergen dan divergen. Permasalahannya berada pada pemahaman dan cara pemanfaatan pola pikir yang dimiliki untuk memunculkan sebuah ide yang “out of the box”.</p>
<p>Prinsip dasar yang banyak dilupakan dalam memunculkan ide kreatif itu pada tahapan memahami yang didalam kotak atau “inside the box”. Karena untuk mengerti apa saja yang ada diluar kotak, harus dipahami dahulu secara seksama apa saja yang didalam kotak.  Pada tahapan inilah diperlukan pemikiran yang konvergen, fokus dan spesifik dengan apa yang didalam kotak. Pemahaman yang mendalam sangat diperlukan pada tahap ini, hingga inti sari hal yang “inside the box” benar-benar diketahui dan dimengerti. Metode yang dapat dilakukan salah satunya dengan konsep yang dikenal dengan konsep 5W + 1H, What, Who, When, Where, Why dan How.</p>
<p>What adalah apa sebenarnya kotak tersebut. Inilah dasar untuk konsep selanjutnya. Jika diambil sebuah contoh, dimisalkan kotak yang dimaksud adalah film. Ketahuilah secara mendalam mengenai apa itu film, apa saja film yang ada dan lainnya yang terkait dengan film. Deskripsikan seluruhnya dengan detail dan objektif.</p>
<p>Who, pahamilah hal siapa saja yang terkait dengan kotak tersebut. Siapa penemu film, siapa pembuat film, siapa yang terlibat difilm dan siapa-siapa yang lain yang berhubungan dengan film. Kemudian When, kapan film itu dibuat, kapan film itu diputar, dan kapan-kapan lainnya. Where, dimana film itu berada, dimana film diputar, dimana dibuatnya atau kemunculannya dan lain-lain. Why, kenapa harus film, kenapa ada film dan kenapa sebagainya. How, bagaimana film itu dibuat, diedarkan, diputar dan lain sebagainya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal-hal yang bersifat umum atau yang telah ada mengenai film.</p>
<div id="attachment_50" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-50" title="the-box" src="http://adcount.files.wordpress.com/2009/09/the-box.jpg?w=300&#038;h=300" alt="Ilustrasi berbagai sudut pandang" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi berbagai sudut pandang</p></div>
<p>Setelah secara prinsip memahami tentang kotak tersebut, yang saat ini kita umpamakan kotak tersebut adalah film. Tahap selanjutnya mulai menggunakan pemikiran yang divergen, menyebar dan meluas dari kotak itu. Pikirkanlah hal yang tidak ada atau berbeda dari apa yang dalam kotak itu yang telah kita pahami. Dalam tahap  ini berimajinasilah seluas-luasnya, berpikirlah menyebar, pandang kotak tersebut dari berbagai sudut pandang, atas, bawah, depan, belakang, samping kiri dan kanan, jangan membatasi diri. Posisikan diri sebagai seorang yang berada diluar kotak. Jangan takut berpikir hal-hal yang dianggap tidak wajar atau tidak biasa atau bahkan hal yang sangat sederhana sekalipun dahulu, biarkan imajinasi menjalankan perannya. Karena itu dapat yang menghambat terciptanya ide yang kreatif. Suatu hal dianggap tidak wajar atau tidak biasa dikarenakan hal tersebut belum menjadi sebuah hal yang umum ada dan diterima masyarakat luas. Pada umumnya seringkali hal yang seperti itulah yang dianggap sebagai suatu ide yang kreatif dan cemerlang. Seperti contoh yang diambil sebelumnya, yakni film. Secara umum, film porno adalah sesuatu yang tidak wajar. Tetapi, terlepas dari hukum dan norma yang ada, bagi sebagian orang film porno adalah sesuatu yang kreatif dan sudah dianggap biasa.</p>
<p>Kemudian catatlah hasil imajinasi yang telah dilakukan, apapun itu. Baik hanya sekedar sebuah kata, tema, benda, orang, sudut pandang tertentu atau hal yang sederhana sekalipun. Catatan itulah merupakan dasar dari awal munculnya sebuah ide yang baru.</p>
<p>Lalu dari sekian banyak hal yang telah dicatat, telitilah satu per satu. Gunakan kombinasi pemikiran yang konvergen dan divergen terhadap hal-hal imajinatif tersebut. Fokus dan menyebar, dapat juga menggunakan konsep 5W + 1H atau kombinasikanlah masing-masing diantaranya. Carilah yang relevan dan realistis untuk dilakukan pada saat itu. Bukan seperti film porno diatas, walau mungkin saja hal seperti film porno dapat benar-benar diterima secara legal di masyarakat. Tetapi, ide yang bermanfaat serta sesuai norma tentunya akan jauh lebih baik.</p>
<p>Pada akhirnya, carilah sebanyak-banyak pendapat orang lain mengenai ide tersebut. Jangan takut dianggap aneh, jika memang anggapan tersebut yang muncul berarti awal sebuah ide kreatif telah dicapai.</p>
Posted in Filosofi, Isi Otak Tagged: Arista Diki, baru, creation, creative, divergen, edesain, film, gagasan, ide, kebijaksanaan, konvergen, kreatif, kreatifitas, manusia, nyeleneh, out of the box, pola pikir, porno <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=46&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2009/09/06/manajemen-kreatif-bag-2-memunculkan-ide-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adcount.files.wordpress.com/2009/09/apa-yang-didalam-kotak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">apa-yang-didalam-kotak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adcount.files.wordpress.com/2009/09/the-box.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">the-box</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Kreatif Bag. 1 &#8211; Tentang Kreatif</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2009/09/05/manajemen-kreatif-bag-1-tentang-kreatif/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2009/09/05/manajemen-kreatif-bag-1-tentang-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 20:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Isi Otak]]></category>
		<category><![CDATA[Arista Diki]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[creation]]></category>
		<category><![CDATA[creative]]></category>
		<category><![CDATA[divergen]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[konvergen]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[nyeleneh]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kata yang mulai populer beberapa tahun belakangan ini. Kata yang terkait dengan pemikiran baru, ide baru, atau sesuatu yang beda dan tidak seperti yang lain. Pemerintah Indonesia pun tahun 2009 ini mulai menggaung-gaungkannya dalam sebuah slogan, yang ditangkap oleh sebagian orang sebagai sebuah tahap awal transformasi ekonomi Indonesia.
Dari terminologinya kata tersebut berhubungan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=44&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada sebuah kata yang mulai populer beberapa tahun belakangan ini. Kata yang terkait dengan pemikiran baru, ide baru, atau sesuatu yang beda dan tidak seperti yang lain. Pemerintah Indonesia pun tahun 2009 ini mulai menggaung-gaungkannya dalam sebuah slogan, yang ditangkap oleh sebagian orang sebagai sebuah tahap awal transformasi ekonomi Indonesia.</p>
<p>Dari terminologinya kata tersebut berhubungan dengan kata ‘kreasi atau creation’ yang berarti karya atau ciptaan dari seseorang. Dimana proses pembuatan atau penciptaan karya tersebut dapat kita sebut sebagai proses ‘desain’. Ya, kata tersebut adalah “kreatif atau creative”.</p>
<p>Kita sering mendengar bahkan tidak jarang dianjurkan oleh orang-orang disekeliling kita, “kreatif, dong!”. Mengapa? Kreatif sering dimaksudkan sebagai proses menghasilkan sebuah ide baru, gagasan cemerlang yang belum pernah ada atau konsep yang belum terpikirkan sebelumnya. Hal ini untuk selalu mendorong kita pada perubahan, tentunya agar menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Wikipedia Indonesia, dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.</p>
<p>Tetapi yang sering menjadi persoalan adalah bahwa kreatif itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Yaitu, seperti telah disebut diatas, sebagai orang dengan pemikiran divergen. Memang pada dasarnya manusia itu memiliki 2 pola pikir dasar, secara konvergen dan divergen. Pemikiran konvergen berarti pemikiran atau pola pikir yang terfokus dan spesifik. Sedangkan pemikiran divergen berarti pemikiran yang menyebar dan meluas atau kadang sering dinilai sebagai pemikiran yang ‘nyeleneh’ dengan istilah kerennya ‘out of the box’. Kedua pola pikir ini memang saling bertentangan, hingga manusia secara umum tidak dapat menjalankan keduanya secara simultan. Meskipun begitu dengan pemahaman yang baik terhadap kedua pola pikir tersebut dan kaitannya dalam pemecahan suatu masalah atau penciptaan sesuatu yang baru, manusia dapat mengontrol kedua pola pikir ini.</p>
<p>Dapat dikatakan disini, bahwa secara fundamental semua manusia memiliki potensi kreatif atau potensi untuk dapat menciptakan ide atau gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hanya saja karena tidak mudahnya memahami 2 pola pikir yang saling bertentangan, potensi tersebut menjadi kurang optimal.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya potensi tersebut menjadi optimal? Pada artikel bagian 2 nanti, kita akan mencoba menelaah metode mencari sesuatu yang ‘out of the box’ agar potensi kreatif kita menjadi optimal dengan memanfaatkan kedua pola pikir diatas tadi.</p>
<p>Untuk Indonesia Kreatif. Tetap hargai kreatifitas orang lain, seperti kita menghargai kreatifitas kita sendiri.</p>
Posted in Filosofi, Isi Otak Tagged: Arista Diki, baru, creation, creative, divergen, gagasan, ide, konvergen, kreatif, kreatifitas, manusia, nyeleneh, out of the box, perubahan, pola pikir <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=44&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2009/09/05/manajemen-kreatif-bag-1-tentang-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filosofi Sepakbola</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2009/08/04/filosofi-sepakbola/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2009/08/04/filosofi-sepakbola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 19:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Arista Diki]]></category>
		<category><![CDATA[bola]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Permainan bola itu tentunya tidak hanya melulu mengenai menendang bola ke gawang lawan saja. Kita bayangkan saja jika masing-masing kedua puluh dua pemain berusaha menendang bola pada saat yang bersamaan. Betapa semrawutnya permainan. Sepak bola merupakan penggabungan dari keahlian mengolah bola, kemampuan fisik, kerjasama tim, mental serta strategi. Setiap pemain, seperti penjaga gawang, bek, gelandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=34&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Permainan bola itu tentunya tidak hanya melulu mengenai menendang bola ke gawang lawan saja. Kita bayangkan saja jika masing-masing kedua puluh dua pemain berusaha menendang bola pada saat yang bersamaan. Betapa semrawutnya permainan. Sepak bola merupakan penggabungan dari keahlian mengolah bola, kemampuan fisik, kerjasama tim, mental serta strategi. Setiap pemain, seperti penjaga gawang, bek, gelandang dan penyerang atau bahkan pelatih memiliki perannya masing-masing. Kesemuanya saling bersinergi dalam menciptakan sebuah permainan yang solid, berkarakter dan tajam. Operan bola pendek dan cepat dari kaki ke kaki dengan sesekali umpan cepat menusuk kedalam jantung pertahanan lawan mengikuti pergerakan tanpa bola dari rekan lain merupakan salah satu strategi dalam permainan bola.</p>
<p>Strategi diracik sebelum permainan dimulai. Jajaran pelatih beserta sebagian pemain merancang taktik dengan memperhitungkan karakter permainan lawan yang akan dihadapi dan kondisi para pemain yang ada. Kemudian dari taktik tersebut ditentukan pemain-pemain inti yang akan mengisi posisi-posisi yang sesuai dengan keahlian dan karakter pemain. Pemain dengan karakter bertahan dijadikan bek, yang memiliki karakter menyerang diberi peran sebagai striker dan yang mampu memberikan umpan-umpan diberi tugas sebagai gelandang. Setiap pemain ditempatkan pada posisi yang mereka kuasai dengan cukup baik.</p>
<p>Ketika permainan dimulai, seluruh pemain berada pada posisinya masing-masing. Mereka mulai menjalankan taktik dan strategi yang diberikan oleh pelatih. Bola dioper dari kaki ke kaki baik dengan operan pendek atau panjang hanya untuk satu tujuan yaitu mencetak gol di gawang lawan. Secara serempak seluruh anggota tim langsung menerapkan formasi bertahan ketika lawan mendapatkan bola dan mulai menyerang. Begitu pun ketika mereka mendapatkan bola, seluruh pemain pun mulai bergerak membentuk formasi penyerangan. Sesekali pemain harus sedikit mengolah bola untuk mengecoh lawan. Kemudian pemain lain bergerak tanpa bola untuk mendapatkan ruang dan kesempatan didaerah pertahanan lawan untuk mencetak gol.</p>
<p>Begitu pun kehidupan, tentu tidak hanya sekedar pemenuhan nafsu semata, segala macam dilakoni tanpa memikirkan hajat hidup orang lain, hingga ambisi terpenuhi. Jika begitu, kehidupan menjadi sesuatu yang suram, penuh ego manusia yang ingin menang sendiri. Kekerasan, kejahatan atau bahkan peperangan akan menjadi sesuatu yang lumrah. Kehidupan akan harmonis ketika masing-masing manusia menyadari perannya. Karakter pribadi dan keahlian menjadi dasar penentuan peran, dimana kerjasama dengan yang lain harus dilakukan. Tujuan pun merupakan hal yang mutlak dimiliki. Hingga perancangan dan penentuan strategi yang tepat lebih mudah dilakukan. Siapa yang bertugas menjaga gawang, mengatur serangan, menyerang, atau bahkan bergerak tanpa bola untuk membuka ruang dan kesempatan? Masing- masing harus sadar akan posisinya dan menjalankan tanggung jawab sesuai pos tugas yang telah diberikan agar <em>‘permainan’</em> dapat berjalan dan <em>‘kemenangan</em>’ akan di gapai.</p>
Posted in Filosofi Tagged: Arista Diki, bola, kebijaksanaan, kehidupan, manusia, pola pikir, sepak bola <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=34&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2009/08/04/filosofi-sepakbola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Iman Bag. 2 &#8211; Spiritualitas</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/08/20/tentang-iman-bag-2-spiritualitas/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/08/20/tentang-iman-bag-2-spiritualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 05:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Isi Otak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dualitas]]></category>
		<category><![CDATA[gede prama]]></category>
		<category><![CDATA[harian kompas]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jalalludin Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[Mahatma Gandhi]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Mandela]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Berlanjut tentang iman, bahwa iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Kesimpulan tersebut mendapat sebuah dukungan dari opini yang disampaikan oleh Gede Prama melalui sebuah artikel di Harian KOMPAS Sabtu, 9 Agustus 2008, yang berjudul “Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan”. Pada artikel tersebut disampaikan tentang bagaimana sosok-sosok seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi hingga Mahatma [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=27&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Berlanjut tentang iman, bahwa iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Kesimpulan tersebut mendapat sebuah dukungan dari opini yang disampaikan oleh Gede Prama melalui sebuah artikel di Harian KOMPAS Sabtu, 9 Agustus 2008, yang berjudul “Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan”. Pada artikel tersebut disampaikan tentang bagaimana sosok-sosok seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi hingga Mahatma Gandhi menjadi segelintir manusia yang mampu memasuki wilayah yang diumpamakannya sebagai laut.</p>
<div id="attachment_29" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://adcount.files.wordpress.com/2008/08/kompas09082008.jpg"><img class="size-medium wp-image-29" src="http://adcount.files.wordpress.com/2008/08/kompas09082008.jpg?w=300&#038;h=241" alt="Harian KOMPAS 9 Agustus 2008" width="300" height="241" /></a><p class="wp-caption-text">Harian KOMPAS 9 Agustus 2008</p></div>
<p style="text-align:justify;">Gede Prama mengambil pengggambaran tingkatan spiritualitas manusia dari alam, berupa hujan, sungai dan laut. Digambarkan bahwa sifat hujan itu jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada di bumi, dimana menjelaskan tentang semangat, keras, penuh tenaga atau dapat disebut juga penuh ambisi. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai kehilangan sifat-sifat kerasnya. Walau pada bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas, tetapi dikebanyakan tempat dan waktu air sungai itu lembut. Disungai ini Gede Prama menjelaskan tentang kemampuan manusia meramu antara ketegasan dan kelembutan dalam bertindak. Hingga akhirnya air sungai akan sampai dilaut, sebagai tempat meleburnya dualitas yakni kekerasan dan kelembutan. Disinilah persamaan diantara sosok-sosok yang disebut diatas, yakni melakukan semuanya dengan cinta dan menerima hasilnya dengan keikhlasan. Atau laut diibaratkan lebih lanjut sebagai ibu, bahwa laut adalah simbolik cinta  karena apa saja yang datang diolah penuh cinta. Serta sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari penggambaran Gede Prama tersebut, jika di korelasikan dengan pembahasan Tentang Iman bag 1 pada dasarnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah istilah yang digunakan, Gede Prama menggunakan kata spiritualitas dalam penjelasannya, sedangkan sebenarnya ketika kita berbicara spiritualitas itu akan sama dengan berbicara keyakinan dan pola pikir bahwa  ada kekuatan Yang Maha Besar yang menguasai alam raya beserta isinya ini. Dengan kata lain, ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan batin tanamkanlah spiritualitas dalam diri kita, terlepas dari aliran spiritual atau dalam kata lain agama yang kita anut.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu pulalah yang memperkuat landasan bahwa Islam bukan hanya sekedar agama, bukan hanya sekedar aliran spiritual untuk mencapai kebahagiaan batin, tetapi lebih dari pada itu. Meskipun begitu, sayangnya sebagian besar umat islam saat ini lebih mengedepankan aspek ritualitas dalam Islam tanpa memperkuat aspek spiritualitas yang seharusnya menjadi dasar menjalankan ritual.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=27&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/08/20/tentang-iman-bag-2-spiritualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adcount.files.wordpress.com/2008/08/kompas09082008.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Harian KOMPAS 9 Agustus 2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa MUI : ROKOK = HARAM</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/08/15/fatwa-mui-rokok-haram/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/08/15/fatwa-mui-rokok-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 06:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Otak]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[merokok]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Mulai hari ini rokok merupakan barang haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Kok tiba-tiba berubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram. Tapi memang begitu kenyataannya. Walau memang disampaikan juga bahwa bukan ketentuan yang mengikat. Sebenarnya apa dasar hukumnya? Lalu apa yang harus kita perbuat dengan ketentuan itu?
Ada beberapa ketentuan dalam Islam yang mendasari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=15&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Mulai hari ini rokok merupakan barang haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Kok tiba-tiba berubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram. Tapi memang begitu kenyataannya. Walau memang disampaikan juga bahwa bukan ketentuan yang mengikat. Sebenarnya apa dasar hukumnya? Lalu apa yang harus kita perbuat dengan ketentuan itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa ketentuan dalam Islam yang mendasari rokok menjadi barang haram. Hal ini sebenarnya sudah menjadi wacana lebih dari 2 dekade lalu pada zaman order baru, tetapi tidak dipublikasikan. Ketentuan dalam Al-Qur&#8217;an diantaranya :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin atau dengan kata lain dapat menyebabkan kematian. Hukum tentang perbuatan yang menyebabkan kematian dijelaskan dalam Al-Qur&#8217;an yang terjemahannya adalah: &#8220;&#8230;dan janganlah kamu membunuh jiwa&#8230;&#8221; (QS 6:151).</li>
<li>Tubuh kita merupakan amanah dari Allah yang harus selalu dijaga. Mengkonsumsi barang-barang yang dapat mengganggu fungsi raga dan akal (intoxicant) adalah perbuatan yang dilarang atau haram. Misalnya minum alkohol atau menggunakan narkoba. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur&#8217;an yang terjemahannya adalah : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah kekejian, termasuk perbuatan setan. Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu sukses&#8221; (QS 5:90).</li>
<li>Harta yang kita miliki juga merupakan titipan dari Allah, untuk itu tentunya tidaklah pantas jika dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sejauh ini rokok masih belum banyak memberikan manfaat lebih dibandingkan mudharat yang ditimbulkannya. Dalam Al-Qur&#8217;an dijelaskan sebagai berikut: &#8220;&#8230;dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya&#8221; (QS 17: 26-27).</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Selain dari ketiga ayat tersebut, dalam beberapa hadist yang membuat rokok/merokok merupakan barang/perbuatan yang dilarang. Diantaranya Sabda Rasulullah :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>&#8220;Siapa yang makan dari tanaman ini (bawang putih) maka jangan mendekat masjid kami&#8221; (HR Bukhari-Muslim).<br />
Hadist ini menerangkan larangan mendatangi masjid bagi orang-orang yang habis makan bawang putih/bawang merah mentah, karena bau tak sedap yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan merokok. Diketahui bahwa merokok juga dapat menyebabkan bau nafas yang kurang sedap.</li>
<li>&#8220;Setiap yang mengganggu fungsi akal (intoxicant) adalah khamr dan setiap khamr adalah haram&#8221; (HR. Muslim dan Abu Dawud).<br />
Hadist ini memperjelas Firman Allah seperti yang disampaikan diatas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Petikan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Rasulullah cukup jelas menggambarkan kedudukan rokok dalam Islam. Tapi, mengapa MUI mengeluarkan fatwa yang tidak mengikat. Tentu bukan tanpa sebab juga MUI memutuskan hal seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari struktur kelembagaan MUI dalam negara RI. Kita mungkin sudah dapat menebak alasan mengapa fatwa MUI yang satu ini bersifat tidak mengikat. Karena rokok telah menjadi industri yang terlanjur menjadi besar, tentu pertimbangan utamanya adalah hajat hidup tidak sedikit warga. Baik yang terlibat dalam industri dari hulu sampai hilir, maupun masyarakat luas yang tersokong atas pajak dari industri rokok tersebut. Tapi MUI telah menetapkan bahwa rokok itu haram dan bukankah segala sesuatu yang bersumber dari yang haram tentunya akan menjadi haram juga. Lalu bagaimana dengan hukum dari segala bentuk keuntungan yang dihasilkan dari industri rokok seperti pajak misalnya ?</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu, mungkin untuk saat ini tidak ada salahnya, jika kita menyimak hadist Rasulullah berikut : &#8220;Sesungguhnya segala amal bergantung pada niat&#8221;. (Muttafaqun &#8216;alaih) dan firman Allah : &#8220;Supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya&#8221;. (QS. Al-Mulk: 2).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hadist tersebut diatas, kita sebagai muslim dapat membuat pilihan tentang apa yang dapat kita lakukan saat ini diantaranya :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menuntut kepada pemerintah untuk penetapan bahwa rokok adalah ilegal, karena barang haram, statusnya tidak berbeda dengan narkoba. Tapi konsekuensinya akan terjadi gejolak luar biasa dalam masyarakat.</li>
<li>Tetap seperti saat ini, perokok tetap merokok agar industri dapat berjalan. Tetapi, HARUS dengan NIAT untuk menjaga stabilitas dalam masyarakat dan harus juga ditambah dengan upaya berkesinambungan mengalihkan industri rokok pada industri lainnya.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Mana yang akan kita pilih? Putuskanlah !!!</p>
<address><em>NB: Tulisan ini mungkin hanya sekedar pembelaan, dimana pada saat tulisan ini dibuat penulis masih ditemani sebatang rokok.</em></address>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=15&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/08/15/fatwa-mui-rokok-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Iman</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/07/25/tentang-iman/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/07/25/tentang-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Otak]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[jumat]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[sadar]]></category>
		<category><![CDATA[taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[yakin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Membahas mengenai iman, khususnya dalam Islam yang dianut sebagian besar warga Negara Indonesia memang bukan hal mudah. Seperti yang telah disampaikan khotib khutbah Jum’at disalah satu masjid di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur siang ini. Khutbah selama kurang lebih 25 menit itu berisi kisah-kisah kekuatan iman dari para Sahabat Nabi, Pejuang Islam dan para mualaf, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=10&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Membahas mengenai iman, khususnya dalam Islam yang dianut sebagian besar warga Negara Indonesia memang bukan hal mudah. Seperti yang telah disampaikan khotib khutbah Jum’at disalah satu masjid di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur siang ini. Khutbah selama kurang lebih 25 menit itu berisi kisah-kisah kekuatan iman dari para Sahabat Nabi, Pejuang Islam dan para mualaf, dimana mereka beriman atas pemahamannya terhadap Islam itu sendiri. Diceritakan bahwa betapa mantapnya kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan, hingga benar-benar tidak tergoyahkan atas alasan apapun. Bahkan mereka dapat memberikan kontribusi lebih terhadap Islam itu sendiri. Menyimak khutbah tersebut, spontan timbul pertanyaan yang juga menjadi pokok pertanyaan khutbah itu, sejauh mana kekuatan iman kita – sebagian besar umat islam di Indonesia – yang mana ‘beragama islam’ sejak lahir?</p>
<p>Tetapi, tidak hanya pertanyaan diatas yang timbul dalam pikiran saya. Saya jadi teringat mengenai pertanyaan seorang teman. Ia bertanya,”Tujuan agama untuk meraih kebahagian batin. Allah berfiman bahwa hanya satu agama yang benar. Lalu mengapa pendeta, pastur, biksu atau pemuka agama lain yang telah dianggap imam bagi jamaahnya atau telah sampai pada derajat tertinggi terlihat begitu bahagia batinnya?”. Sejak saat pertanyaan itu diajukan beberapa bulan lalu, saya tidak memiliki jawaban yang cukup jelas sampai saat khutbah siang tadi.</p>
<p>Jawabannya sebenarnya pada persepsi kita terhadap iman itu sendiri. Sejauh ini kita menganggap iman hanyalah sekedar ‘percaya’ saja. Padahal ‘iman’ lebih dari itu. Iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Dimana dalam hati dan pikiran kita sadar dan yakin sepenuhnya bahwa ada kekuatan yang Maha Besar yang memberi dan menopang hidup kita. Kesadaran dan keyakinan itu tertanam dan terwujud secara nyata terus menerus setiap detik waktu berjalan sepanjang hidup kita. Atas kesadaran dan keyakinan itu, tentu akan tercermin dalam sikap keseharian kita.</p>
<p>Kodrat kita sebagai manusia memang terus berupaya memenuhi nafsu, terkadang dengan berbagai cara. Hingga kesombongan, kesewenang-wenangan ataupun ketidaksopanan menjadi hal yang lumrah untuk pemenuhan nafsu tersebut. Tetapi, ketika kita menyadari serta meyakini ada kekuatan Yang Maha Besar darinya, yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk diri kita, tentu hati dan pikiran akan menimbang ulang setiap tindakan yang akan kita berbuat. Apakah pantas kita berbuat itu dan setujukah Yang Maha Besar jika berbuat itu? Bagaimana jika Ia tidak menyetujuinya? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Karena pertimbangan itulah, akhirnya timbul sikap kerendahan hati, kesabaran, toleransi dan lain sebagainya. Dunia pun akan menjadi tempat pengabdian kita kepada-Nya. Kita akan selalu berupaya memenuhi kehendak-Nya, agar kita tidak dimurkai-Nya. Dengan begitu ketenangan atau bahkan kebahagiaan batin bukanlah hal yang mustahil akan kita rasakan karena kita sadar dan yakin telah ada kekuatan Yang Maha Besar dari apapun dialam semesta yang akan selalu melindungi setiap langkah kita.</p>
<p>Itulah mengapa para pemuka agama yang ditanyakan seorang teman diatas dapat merasakan kebahagiaan batin. Keyakinan dan pola pikir mereka tertanam iman, terlepas dari tata cara pengabdian yang mereka lakukan. Iman terhadap hal yang mereka imani sebagai kekuatan Yang Maha Besar yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Karena itu juga dalam Islam kita mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat. Kalimat pertama merupakan Ikrar bahwa keyakinan dan pola pikir kita sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Kalimat Kedua merupakan Ikrar bahwa Muhammad adalah Rasulullah yang membawa risalah (tata cara pengabdian) dari ALLAH SWT. Kedua kalimat itu kita ikrarkan dan laksanakan untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, tingkatan yang lebih tinggi daripada iman.</p>
<p>Semoga kita tergolong orang-orang yang beriman. Amin.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=10&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/07/25/tentang-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Keputusan</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/06/28/sebuah-keputusan/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/06/28/sebuah-keputusan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 11:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[‘Keputusan’, sebuah kata benda yang berasal dari kata dasar berupa kata sifat yaitu ‘putus’. Dalam bahasa Indonesia, secara harfiah kata ‘putus’ berarti menunjukkan sebuah kondisi dari suatu hal dimana sebelumnya bersambungan atau merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpisah atau menjadi 2 hal yang memiliki jarak dan terdapat pembatas diantaranya. Hingga ketika ditambah dengan awalan ‘ke-‘ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=8&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>‘Keputusan’, sebuah kata benda yang berasal dari kata dasar berupa kata sifat yaitu ‘putus’. Dalam bahasa Indonesia, secara harfiah kata ‘putus’ berarti menunjukkan sebuah kondisi dari suatu hal dimana sebelumnya bersambungan atau merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpisah atau menjadi 2 hal yang memiliki jarak dan terdapat pembatas diantaranya. Hingga ketika ditambah dengan awalan ‘ke-‘ dan akhiran ‘-an’ dapat diartikan menjadi sebuah hal yang menjadi pemisah atau pembatas.</p>
<p>Oleh karena merupakan pemisah atau pembatas, sebuah keputusan menjadi suatu hal yang sangat penting keberadaannya. Karena pemisah atau pembatas ini sangat diperlukan untuk membuat suatu kondisi menjadi tidak terbatas, yang menyebabkan kondisi tersebut menjadi hampa tanpa batas ruang dan waktu, hingga seakan menjadi abadi. Sedangkan dalam hukum alam nyata, tidak ada sebuah kondisi yang abadi. Sebuah kondisi  akan dapat ideal jika memiliki batas ruang dan waktu. Batas tersebutlah yang mengakibatkan adanya perbedaan serta pergerakan. Adanya perbedaan akan mempertegas identitas suatu hal dan adanya pergerakan akan memperlihatkan suatu perubahan.</p>
<p>Dari sedikit uraian diatas dapat disimpulkan bahwa adanya sebuah ‘keputusan’ – dalam alam nyata – sangat diperlukan untuk membuat suatu hal yang bersambungan atau menyatu menjadi memiliki batas dan jarak diantaranya. Adanya batas dan jarak memang akan menimbulkan gesekan diantara 2 kondisi yang telah tidak bersambungan tersebut. Tetapi dampak yang muncul dari timbulnya gesekan tersebut dalam jangka waktu yang singkat atau lambat akan berskala besar. Dampak ini merupakan tuntutan dari hukum alam nyata berikutnya setelah perbedaan, yaitu perubahan.</p>
<p>Itulah mengapa sebuah ‘keputusan’ menjadi sebuah hal yang sangat sulit untuk dibuat. Perubahan yang signifikan cepat atau lambat hampir dapat dipastikan akan dirasakan, baik itu positif maupun negatif. Hanya dengan kebijaksanaan dan ketegasanlah perubahan yang diharapkan akan dapat diraih.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=8&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/06/28/sebuah-keputusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Maukah Kamu Menjadi Istriku?”</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/06/25/%e2%80%9cmaukah-kamu-menjadi-istriku%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/06/25/%e2%80%9cmaukah-kamu-menjadi-istriku%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 06:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Arista Diki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Cerita Pendek oleh Arista Diki


Bulan bersinar penuh, memberikan rona cahaya lembut pada permukaan bumi yang semakin membuat khalifah-Nya haus akan kesejukan. Kesunyian pun mulai menerpa penghuni-penghuni alam semesta, termasuk kediaman sederhanaku dan keluarga.
Akan tetapi, “Maukah kamu menjadi istriku?”, pertanyaan itu masih seperti terngiang di telingaku saat kurebahkan tubuhku segera pada tempat tidur kamarku. Pertanyaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=7&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Sebuah Cerita Pendek oleh Arista Diki<br />
</span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Bulan bersinar penuh, memberikan rona cahaya lembut pada permukaan bumi yang semakin membuat khalifah-Nya haus akan kesejukan. Kesunyian pun mulai menerpa penghuni-penghuni alam semesta, termasuk kediaman sederhanaku dan keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Akan tetapi, “Maukah kamu menjadi istriku?”, pertanyaan itu masih seperti terngiang di telingaku saat kurebahkan tubuhku segera pada tempat tidur kamarku. Pertanyaan yang pasti membuat gemetar hati wanita ketika terucap dari bibir lelaki idamannya. Tapi aku, entahlah. Hatiku terasa biasa saja, aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa. Dulu pada saat ada pertama kali seorang lelaki mengajakku menikah, rasa gemetar itu mencuat. Tapi, saat ini, setelah kesekian kali rasa itu seperti hilang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ya, Allah. Apa hatiku sudah terlalu dingin? Atau lelaki yang bertanya itu bukanlah lelaki idamanku? Tetapi, aku tahu dia tahu lelaki yang baik”. <span> </span>Ucapku sendiri dalam kamar, memohon petunjuk dari-Nya. Aku memang mengagumi perjalanan hidup lelaki itu dan berbagai pemikirannya. Dia memiliki prinsip dan visi hidup yang sama denganku, itu terlihat dari beberapa diskusi kami mengenai hidup. Tapi pada saat dia mengucapkan pertanyaan itu, mengapa hatiku terasa hampa. Senang atau sedihkah aku mendengar pertanyaan itu. Segera aku memohon petunjuk pada-Nya. Kutunaikan sholat 2 rakaat malam itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Seusai sholat, aku merasa lebih tenang. Pertanyaan itu dan berbagai pertanyaan lain yang menerpa pikiranku hilang sudah. Kumohon pada-Nya dalam hati untuk memberiku petunjuk. Tidak lama setelah kulepas mukenaku kurebahkan kembali tubuhku ditempat tidur dan kupejamkan mataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Yang penting adalah 2 hal. Akhlak dan agamanya”, beliau menyampaikan padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Seperti ayah?”, sambungku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ayahmu lelaki yang baik. Suami yang baik. Menurut bunda, ayah yang baik juga. Tapi tentu kamu memiliki keinginan, keluarga seperti apa yang ingin kamu bangun. Selain itu, ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Itulah salah satu tujuan menikah, saling menutupi berbagai kekurangan yang dimiliki masing-masing pasangan”. Bunda yang telah melahirkanku seperempat abad lalu bercerita padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Tapi, suami itukan imam, bunda. Dia yang akan membawa kemana arah keluarga akan dituju”, komentarku pada bunda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Iya. Kamu bagian yang mengingatkan. Sampaikan semua keinginanmu, yang realistis. Insya Allah, dengan akhlak dan agamanyalah, seorang suami akan membawa istri dan anak-anaknya ke jalan yang diridhoi-Nya”, sahut bunda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Allahu Akbar, Allahu Akbar”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Aku terbangun setelah mendengar adzan shubuh itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Astagfirullah, aku bermimpi”. Ku ucap istigfar setelah aku menyadari bahwa aku bermimpi. ‘Ya Allah, Kau telah memberi petunjuk-Mu’, dalam hati kubersyukur. Walau keheranan menghinggap pikiranku, karena mimpi yang alami adalah kejadian ketika bunda memberiku nasehat pada saat pertama kalinya seorang lelaki melamarku. Mungkin itulah cara Allah mengingatkanku. Tanpa ragu aku segera berwudhu guna menunaikan sholat shubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Kesunyian malam mulai sirna dalam rumahku. Ayam jantan pun mulai memanggil penduduk semesta untuk bangkit dari diamnya jasad, berbuat demi kelangsungan kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Ayah, bunda dan Fariz, adikku satu-satunya yang masih saja terus bergelut membangun sebuah usaha dengan konsep e-commerce, walau ia juga masih menempuh pendidikan strata 1-nya, baru saja menunaikan sholat shubuh berjamaah. Aku biasanya juga ikut serta berjamaah bersama mereka. Tapi karena peristiwa semalam, pagi ini aku sengaja menunaikan sholat sendiri dikamarku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Assalamu ‘alaikum”, suara bunda terdengar didepan pintu kamarku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“’Alaikum salam”, jawabku. Kulihat bunda datang ketika aku hendak membuka mukenaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Bunda memang sering mendatangi kamar anaknya, terutama ketika diketahui anaknya dikamar tetapi tidak ikut sholat berjamaah. Ayah dan bunda memang membiasakan keluarga untuk sholat berjamaah dirumah. Walau hanya aku dan bunda dirumah, karena ayah dan Fariz sholat berjamaah di masjid, hal itu seperti sudah menjadi kewajiban. Apalagi ketika seluruh anggota keluarga sedang tidak kemana-mana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ada apa nih?”, bunda bertanya padaku dan langsung menghampiriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ngga ada apa-apa, kok, bunda.”sahutku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Yang bener?”, tanya bunda kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Begitulah bundaku. Seorang ibu yang sangat luar biasa. Selalu tahu jika anaknya menghadapi masalah. Walau aktifitasnya tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, karena beliau juga merupakan </span><span>Dekan </span><span lang="IN">sebuah </span><span>fakultas pada sebuah </span><span lang="IN">perguruan tinggi negeri terkemuka, beliau tetap selalu meluangkan waktu memperhatikan anak-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN"><span> </span>“Bener, bunda”, jawabku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ya, udah. Kalau gitu bunda tunggu didapur, ya”, ucap bunda sambil mengusap-usap kepalaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Aku hanya mengangguk-angguk saat itu, sambil melihatnya berlalu meninggalkan kamarku. Aku sengaja menahan dulu bercerita tentang apa yang aku alami semalam. Aku ingin merasa yakin dulu sebelum aku bicara dengan ayah dan bundaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Kutinggalkan kamarku sehabis sejenak kuatur kembali beberapa atribut kamarku yang berantakan. Kulihat ayah sudah mulai sibuk dengan laptopnya. Ayah memang sering seperti itu. Beliau termasuk lelaki yang workoholic. Bunda sering agak keras, ketika ayah tetap sibuk dengan pekerjaannya walau sudah larut malam. Tidak jarang aku lihat ayah harus begadang sampai shubuh untuk bekerja. Ayah merupakan salah satu direksi di perusahaan multi nasional yang beliau bangun bersama rekan-rekannya. Selain itu, beliau juga </span><span>menjadi </span><span lang="IN">salah satu staf pengajar disalah satu perguruan tinggi</span><span> swasta</span><span lang="IN"> di kota ini</span><span> yang memang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu</span><span lang="IN">. Beliau memang sosok yang ulet. Semua hal ingin diketahui dan dipelajarinya, apalagi yang menyangkut teknologi. Walaupun bidang pekerjaannya lebih kepada masalah komunikasi dalam pemasaran tetapi filsafat, sastra bahkan politik menjadi daya tarik tersendiri baginya. “Yang penting kita memahami esensi dasarnya. Kalau ada masalah, setidaknya kita tahu kenapa hal itu bisa terjadi”, ujar ayah suatu ketika saat aku menanyakan alasan beliau belajar berbagai macam hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Tidak cuma dengan pekerjaannya saja ayah sibuk. Beliau sering juga meluangkan waktu berkumpul dengan teman-teman lamanya semasa SMU dulu. Bahkan selang waktu beliau juga tetap menjalankan hobi beliau sejak remaja dulu, yaitu hiking. “Ya, kita kan perlu refreshing”, jawab ayah kalau ditanya alasan mengapa terus melakukan hiking. Tidak jarang aku dan Fariz diajak hiking oleh ayah. Sebenarnya ayah pun sangat ingin bunda turut serta, tetapi karena alergi dingin yang dimiliki bunda, membuat bunda tidak dapat ikut. Aku ingat sekali 2 tahun lalu, ketika ayah, aku dan Fariz mendaki gunung Gede Pangrango. Betapa ayah pada saat itu bercerita bahwa beliau sering kali merasa bersalah ketika hiking karena meninggalkan bunda demi kesenangannya sendiri. Walaupun bunda mengijinkan tetapi rasa bersalah itu tetap menghinggapinya. “Habis mau gimana lagi, bunda kalian ngga bisa ikut, sih”, cerita ayah ketika itu pada kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Walaupun begitu, aku tetap melihat ayah sebagai sosok ayah dan suami yang baik. Perhatiannya padaku dan Fariz tidak pernah terlewat sedikit pun. Setiap malam selalu saja ada perbincangan diantara kami dengan ayah, tidak jarang ketegasan ayah terlihat pada saat itu. Meskipun diluar kota atau ketika harus pulang larut malam, komunikasi pada kami dan bunda tetap <span> </span>ayah lakukan. Bahkan kalau dengan bunda, intensitas komunikasinya seperti sudah menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi. Sejak dulu pun ketika aku dan Fariz mulai dapat ditinggal sendiri dirumah, ayah dan bunda sering jalan bersama sampai sekarang. Mereka sering nonton bioskop. “Untuk mempelajari teknik filmnya”, alasan yang mereka berikan pada kami. Padahal aku tahu mereka sering begitu untuk terus menjaga keharmonisan hubungan diantara mereka. Film memang merupakan salah satu bukti kehebatan ayah dan bunda ketika berkolaborasi. Salah satu aktifitas untuk menuangkan idealisme yang mereka miliki, ayah bunda sering membuat film independent bersama. Sudah lebih dari 15 judul film independent yang mereka hasilkan semenjak mereka menikah. Walau tidak semua masuk nominasi di beberapa festival film, tapi film yang dihasilkan menurutku sudah sangat bagus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>Ayah bundaku memang kombinasi yang unik. Seorang lelaki yang sangat menggemari kesederhanaan, pekerja dan pemikir keras dan tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Serta seorang wanita bersahaja, dengan kelembutan dan kasih sayangnya ia menegaskan prinsipnya. Aku teringat apa yang ayah sampaikan tahun lalu, ketika pernikahan ayah dan bunda memasuki masa pernikahan perak. Ayah bercerita bahwa ada 5 faktor pokok yang harus terus dipelihara dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelima faktor itu adalah komitmen, saling menghargai, komunikasi, sabar dan tawakal. Memang kelima factor itulah menurut pengamatanku yang membuat ayah bundaku menjadi pasangan yang patut diteladani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Lagi ada proyek apa nih, yah?”, tanyaku pada ayah setelah kuhampiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ngga ada apa-apa. Lagi mempelajari proposal aja. Kamu udah sholat belum?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Udah. Proposal apa nih?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Proposal rekonstruksi lahan perkebunan pasca gempa”, jawab ayah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ooo&#8230; perlu bantuan ngga?”, tanyaku sambil kulihat tulisan di laptopnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Yang sudah master agro industi. Nanti kalau ayah udah mentok, ya. Konsultasinya gratis kan?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Wah, kalau buat ayah, spesial discount seribu persen”, ucapku dengan penuh semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Wow. Oke”, sahut ayah sambil mengusap kepalaku. Tidak lama kemudian aku pun meninggalkan ayah dengan laptopnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Ternyata Allah telah memberikanku petunjuk-Nya. Puji syukur kupanjatkan dalam hati atas apa yang dilimpahkan-Nya padaku. Baik untuk saat ini maupun atas rahmat-Nya yang telah memberikan keluarga yang sangat luar biasa bagiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">SELESAI.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=7&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/06/25/%e2%80%9cmaukah-kamu-menjadi-istriku%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2008/06/23/pernikahan/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2008/06/23/pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 13:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan, saat sepasang manusia berkomitmen menjalankan hidup bersama, membentuk sebuah institusi terkecil dalam struktur masyarakat dengan melahirkan generasi-generasi baru yang akan terus melanjutkan hidup. Pernikahan pun merupakan moment manusia memulai sebuah hidup baru karena dengannya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih disempurnakan, yaitu sebagai keluarga.
Oleh sebab itu, sering kali pemuda atau pemudi merasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=3&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Pernikahan, saat sepasang manusia berkomitmen menjalankan hidup bersama, membentuk sebuah institusi terkecil dalam struktur masyarakat dengan melahirkan generasi-generasi baru yang akan terus melanjutkan hidup. Pernikahan pun merupakan moment manusia memulai sebuah hidup baru karena dengannya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih disempurnakan, yaitu sebagai keluarga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Oleh sebab itu, sering kali pemuda atau pemudi merasa perlu menunda pernikahan dengan alasan belum siap, terutama secara mental. Padahal tidak ada tolak ukur yang jelas mengenai batas kesiapan itu. Yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian. Dengan keberanianlah semua tanggung jawab dan kewajiban dijalankan dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Pernikahan atau berkeluarga juga merupakan bagian dari tujuan hidup yaitu ibadah. Hingga dalam menjalankannya penuh dengan keikhlasan. Dengan begitu, keluarga juga memiliki kewajiban membawa pesan dakwah kepada masyarakat. Bahkan dengan kesatuan tujuan untuk ibadah, 5 faktor yang membuat keluarga menjadi harmonis pun akan timbul dengan sendirinya. Kelima faktor itu, yaitu :</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]-->Komitmen</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:normal;">Komitmen merupakan titik awal dari sebuah pernikahan. Bahwa sepasang manusia akan menjalankan hidup bersama dan membentuk sebuah keluarga. Dengan komitmen yang terus dijaga, bagaimanapun kondisinya setiap pasangan berusaha terus menjalaninya bersama. Untuk itu, disinilah dituntut persamaan visi diantara keduanya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]-->Saling Menghargai.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:normal;">Dalam menjalani hubungan, tentunya harus didasari dengan rasa saling menghargai, tidak ada tindakan yang berkesan superioritas hingga tidak ada pihak yang tertindas. Masing-masing menyadari dan memahami hak dan kewajibannya. Dengan saling menghargai ego masing-masing pun dapat diminimalisir, hingga tercipta sebuah kompromi terhadap berbagai masalah.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]-->Komunikasi</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:normal;">Komunikasi dapat memperkuat hubungan. Masing-masing pasangan tahu dan mengerti apa dan bagaimana pasangannya itu. Berbagai permasalahan pun dapat dilebur bersama dan bahkan dapat diselesaikan bersama dengan komunikasi.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]-->Sabar</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:normal;">Manusia tidak ada yang sempurna.<span> </span>Terkadang terdapat hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka dibutuhkan kesabaran untuk menghadapinya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]-->Tawakkal</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:normal;">Selalu memohon petunjuk pada Yang Maha Besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;">Dengan ke-5 faktor tersebut serta keikhlasan beribadah, pernikahan akan mewujudkan sebuah keluarga yang mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat sebagai wujud penyampaian dakwah. Bahkan dalam hal regenerasi, keluarga memiliki tanggung jawab untuk mencetak generasi-generasi baru yang cerdas dengan akhlak yang mulia.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=3&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2008/06/23/pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jilbab Putih</title>
		<link>http://adcount.wordpress.com/2005/08/15/jilbab-putih/</link>
		<comments>http://adcount.wordpress.com/2005/08/15/jilbab-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2005 19:26:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adcount</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Arista Diki]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kereta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adcount.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu pukul 07.30, untuk yang kedua kalinya, aku melihat wanita muda itu. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan jilbab putihnya. Sepertinya dia juga sedang menunggu kereta api listrik tujuan Jakarta yang akan berangkat sekitar setengah jam lagi.
Tidak seperti kemarin, sejak aku tiba di stasiun yang selalu padat setiap pagi itu, perhatianku terhadap sekitar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=36&subd=adcount&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pagi itu pukul 07.30, untuk yang kedua kalinya, aku melihat wanita muda itu. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan jilbab putihnya. Sepertinya dia juga sedang menunggu kereta api listrik tujuan Jakarta yang akan berangkat sekitar setengah jam lagi.<br />
Tidak seperti kemarin, sejak aku tiba di stasiun yang selalu padat setiap pagi itu, perhatianku terhadap sekitar, yang penuh dengan berbagai macam orang, langsung terpaku kepadanya. Dia sudah duduk di peron sambil membaca sebuah buku.<br />
Walaupun sebenarnya sering kujumpai wanita-wanita berjilbab, tetapi kali ini kurasakan sosok wanita itu sangat berbeda.<br />
Aku terpaku memandanginya. Wajahnya yang putih bersih, penuh dengan kesejukan dan ketenangan, serta menyiratkan kepandaian yang di balut dengan akhlak yang sholihah, meskipun di balik wajahnya itu tetap terlihat bahwa dia memiliki suatu masalah yang sulit terpecahkan. Aku terbayang, betapa damai dan tentram lelaki yang mendampinginya. Kalau saja semua wanita di dunia ini seperti dia, pasti tidak akan ada pemerkosaan, perselingkuhan ataupun pelacuran. Para lelaki akan sangat betah di rumah dan akan terus bersemangat untuk menjadi lebih baik.<br />
Aku perhatikan buku yang di bacanya, ternyata berjudul, ‘Nilai Kerja dalam Islam’. Mungkin, dia baru saja dapat kerja kemarin, ucapku dalam hati.<br />
Kereta yang akan membawaku, ke perusahaan tempatku bekerja pun tiba dan segera akan di berangkatkan kembali. Para penumpang pun langsung menyerbu delapan gerbong tersebut.</p>
<p>===== + =====</p>
<p>Hari ini hari Minggu. Sudah beberapa hari ini banyak perubahan yang terjadi pada diriku. Aku selalu bangun pada saat adzan shubuh berkumandang, sehingga sholatku pun tidak bolong lagi. Bahkan, selepas pulang dari kantor, aku cenderung lebih suka tinggal di rumah daripada keluyuran bersama teman-teman kantorku seperti biasanya.<br />
Entah apa yang terjadi pada diriku. Baru beberapa hari bertemu wanita berjilbab itu, aku merasa telah menjadi orang lain. Sekarang aku merasa ingin lebih menghargai hidupku yang singkat ini. Seperti halnya wanita itu. Walaupun kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas setiap harinya, tetapi ia tetap terlihat tenang dan bersahaja.<br />
Kenapa diriku begitu terpengaruh olehnya. Padahal kami hanya bertemu sekali setiap harinya, itu pun hanya beberapa menit saja. Karena dia selalu turun di stasiun Pondok Kopi, dimana hanya sekitar 15 menit saja perjalanan dari stasiun Bekasi, tempat aku melihatnya pertama kali.<br />
Lalu, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya. Kami memang tidak bertemu hari ini dan aku akui, aku sangat menantikan bertemu dengannya esok. Apa aku rindu dengannya. Apa aku jatuh cinta dengannya.<br />
Dari sekian pertanyaan tersebut, setidaknya satu hal yang aku rasakan sepekan ini. Aku merasa malu untuk mendekatinya. Dia terlihat begitu cerdas, alim dan sholihah. Sedangkan diriku lebih cenderung urakan, cuek, bahkan bisa di bilang munafik. Apa aku pantas mendampinginya.<br />
Padahal, soal mendekati wanita, selama ini aku selalu merasa percaya diri. Dengan penampilan yang trendy, wajahku yang cukup tampan dan penghasilanku yang cukup besar, banyak wanita yang langsung lengket ibarat perangko. Tetapi, wanita-wanita yang kudekati itu berbeda dengan sosok wanita berjilbab yang satu ini. Mereka memang cantik-canti dan seksi. Hanya saja sikap mereka lebih suka untuk berhura-hura saja.</p>
<p>==== + ====</p>
<p>Dua minggu berlalu. Aku tidak melihatnya dua hari ini. Kemarin, aku berpikir mungkin dia terlambat datang, sehingga ketinggalan kereta. Atau malah dia berangkat menggunakan kereta yang lebih awal. Tapi hari ini aku juga tidak melihatnya, mungkinkah dia terlambat lagi atau jadwal kerjanya berubah lebih awal.<br />
Ah&#8230;aku bingung, hatiku terus bertanya-tanya. Ada apa dengannya. Apa telah terjadi sesuatu.<br />
Padahal baru dua hari saja aku tidak bertemu dengannya, bahkan aku pun belum tahu namanya. Tapi kerinduanku terasa bagaikan tak berjumpa selama 2 tahun. Walaupun hanya untuk memandanginya selama beberapa menit saja, aku ingin sekali melakukannya.<br />
Perasaanku ini semakin bergejolak, aku ingat bahwa besok adalah hari Minggu. Sehingga aku harus menahan keinginanku menjumpainya sampai esok lusa. Itu pun kalau saja aku bertemu dengannya. Tapi, aku sudah berencana untuk datang ke stasiun lebih awal. Supaya apabila ia menggunakan kereta lebih awal, aku dapat melihatnya.</p>
<p>==== + ====</p>
<p>Suasana stasiun itu masih terlihat agak lengang. Ternyata kalau kita berangkat lebih pagi, akan terasa lebih nyaman karena masih belum terlalu ramai.<br />
Mataku berkeliaran ke setiap sudut stasiun, untuk menemukan sosok wanita yang telah merebut hatiku. Tetapi, bayangannya pun belum ku lihat sejak aku tiba di stasiun itu. Hatiku semakin tidak menentu. Bingung harus berbuat apa, cemas, rindu, marah, kecewa, semua berkumpul di kepalaku.<br />
Kegundahan hatiku kian bertambah, seiring berangkatnya kereta yang biasa kunaiki. Kubiarkan saja kereta itu, tak apalah aku terlambat ke kantor hari ini, aku akan menggunakan kereta berikutnya, yang penting aku dapat bertemu dengannya.<br />
Tetapi, tetap saja tak terlihat sosoknya. Aku sempat berpikir untuk memanggilnya melalui pusat informasi stasiun, tapi kami pun belum saling mengenal. Aku jelajahi setiap jengkal stasiun itu dengan perasaan yang tak karuan.<br />
Tiba-tiba, penjelajahanku itu terhenti, di temapt aku memulainya. Kulihat sesosok wanita berjilbab putih dengan gaun muslimah berwarna biru. Ternyata dialah wanita perebut hatiku, wanita yang telah kunanti-nantikan. Bahagianya hatiku, kecemasanku tidak terbukti setelah kulihat kecantikannya, kerinduanku terobati setelah memandang keanggunannya, kemarahanku luntur berkat ketenangannya dan kekecewaanku pun raib seketika dengan kehadirannya.<br />
Lalu, apa yang harus kulakukan. Telah kunantikan sosoknya yang mempesona itu, walau baru tiga hari, tapi penantianku itu terasa bagai bertahun-tahun lamanya. Mungkin seperti biasanya, aku hanya memandanginya saja. Karena perasaan malu untuk mendekatinya masih terus menghantuiku.<br />
Kuperhatikan terus wanita idamanku itu, di balik ketenangannya tersirat di wajahnya kesedihan yang amat mendalam. Seperti telah terjadi suatu musibah terhadapnya. Sorot matanya mengesankan bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang snagat bernilai baginya. Kedua matanya terlihat agak bengkak, seperti habis menangis.<br />
Apa yang telah terjadi tiga hari ini dengannya. Musibah apa yang menimpanya.<br />
Pertanyaan itu menambah kebingunganku. Kecemasanku pun muncul kembali. Aku ingin sekali membantu wanita yang membuat kapal hatiku menurunkan jangkar di pelabuhan hatinya. Tetapi percaya diriku masih saja tenggelam dalam pesonanya.<br />
Di sisi lain, rasa sayang kepadanya terus mendorongku untuk mendekatinya. Rasa sayang untuk menghilangkan kepedihannya. Sehingga kecantikan dan kesejukan wajahnya dapat terpancar kembali.<br />
Pergolakan batinku terus membawaku ke dalam gejolak kebimbangan.<br />
Walaupun begitu, akhirnya dengan rasa kasih sayang yang amat sangat, kucoba memberanikan diri untuk mendekatinya.<br />
“Maaf, mbak”, ucapku membuka percakapan.<br />
“Iya, ada apa, ya ?” Jawabnya dengan tenang.<br />
“Mmh&#8230;”.<br />
“Oh, anda yang biasanya naik kereta yang baru saja berangkat, kan ?” Timpalnya menjawab kebingunganku untuk bicara.<br />
“Iya”.<br />
Hatiku sempat berbinar-binar, ternyata dia memperhatikan juga.<br />
“Anda memperhatikan juga yach ?” Jawabku dengan mencoba menutupi kegembiraan hatiku.<br />
“Ah, tidak juga”.<br />
“Maaf, saya hanya ingin menanyakan”, kataku terbata-bata karena kegugupanku untuk menutupi kegembiraan yang kurasakan. “Anda terlihat amat sedih, mata anda pun terlihat agak bengkak, apalagi saya pun tidak melihat anda beberapa hari ini di stasiun ini. Kalau boleh saya tahu, ada masalah apa ?”. tiba-tiba saja ucapanku lancar.<br />
“Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya. Selama beberapa minggu ini, saya selalu ke rumah sakit yang ada di dekat stasiun Pondok Kopi, ibunda saya di rawat di sana karena penyakit kankernya”. Jawab wanita itu dengan mata berkaca-kaca.<br />
“Saat ini saya ingin mengurus beberapa administrasi rumah sakit yang belum selesai”, sambungnya.<br />
“Berarti, ibu anda telah sembuh”.<br />
“Tidak, beliau telah meninggal dunia”. Jawabnya disertai tetesan air mata di pipinya.<br />
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.</p>
<p>==== SELESAI ====</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adcount.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adcount.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adcount.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adcount.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adcount.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adcount.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adcount.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adcount.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adcount.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adcount.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adcount.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adcount.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adcount.wordpress.com&blog=3960412&post=36&subd=adcount&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adcount.wordpress.com/2005/08/15/jilbab-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40c31761dfa10d707e8b45d073eb7f70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adcount</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>