Manajemen Kreatif Bag 2 – Memunculkan Ide Kreatif

6 09 2009

Kreatif, seperti telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, membutuhkan pemahaman yang baik terhadap 2 pola pikir yakni, konvergen dan divergen. Padahal kedua pola pikir tersebut saling bertentangan. Mengapa? Karena dari kedua pola pikir itulah sebuah ide kreatif baru dan cemerlang muncul hingga akhirnya dapat terealisasi.

ilustrasi-apa-yang-didalam-kotak

Ilustrasi apa yang didalam kotak

Sebuah ide kreatif seringkali disebut sebagai ide yang “out of the box”. Disebut demikian karena pada umumnya ide kreatif berbeda dari sesuatu yang telah ada atau telah ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini dapat disebut sebagai hal yang “inside the box”. Begitu juga alasan mengapa ide kreatif pada awalnya sering dianggap ‘nyeleneh’, tidak sesuai dengan tatanan yang sudah ada. Anggapan-anggapan tersebut makin menguat ketika dikaitkan dengan orang yang mencetuskannya atau sang kreator, yang banyak diantaranya memiliki karakter yang unik atau yang dianggap lebih banyak memiliki pemikiran divergen. Tetapi apakah memang ide kreatif hanya milik orang-orang dengan karakter yang unik? Padahal setiap orang secara fundamental adalah unik (berbeda dari yang lain) dan memiliki kedua pola pikir konvergen dan divergen. Permasalahannya berada pada pemahaman dan cara pemanfaatan pola pikir yang dimiliki untuk memunculkan sebuah ide yang “out of the box”.

Prinsip dasar yang banyak dilupakan dalam memunculkan ide kreatif itu pada tahapan memahami yang didalam kotak atau “inside the box”. Karena untuk mengerti apa saja yang ada diluar kotak, harus dipahami dahulu secara seksama apa saja yang didalam kotak.  Pada tahapan inilah diperlukan pemikiran yang konvergen, fokus dan spesifik dengan apa yang didalam kotak. Pemahaman yang mendalam sangat diperlukan pada tahap ini, hingga inti sari hal yang “inside the box” benar-benar diketahui dan dimengerti. Metode yang dapat dilakukan salah satunya dengan konsep yang dikenal dengan konsep 5W + 1H, What, Who, When, Where, Why dan How.

What adalah apa sebenarnya kotak tersebut. Inilah dasar untuk konsep selanjutnya. Jika diambil sebuah contoh, dimisalkan kotak yang dimaksud adalah film. Ketahuilah secara mendalam mengenai apa itu film, apa saja film yang ada dan lainnya yang terkait dengan film. Deskripsikan seluruhnya dengan detail dan objektif.

Who, pahamilah hal siapa saja yang terkait dengan kotak tersebut. Siapa penemu film, siapa pembuat film, siapa yang terlibat difilm dan siapa-siapa yang lain yang berhubungan dengan film. Kemudian When, kapan film itu dibuat, kapan film itu diputar, dan kapan-kapan lainnya. Where, dimana film itu berada, dimana film diputar, dimana dibuatnya atau kemunculannya dan lain-lain. Why, kenapa harus film, kenapa ada film dan kenapa sebagainya. How, bagaimana film itu dibuat, diedarkan, diputar dan lain sebagainya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal-hal yang bersifat umum atau yang telah ada mengenai film.

Ilustrasi berbagai sudut pandang

Ilustrasi berbagai sudut pandang

Setelah secara prinsip memahami tentang kotak tersebut, yang saat ini kita umpamakan kotak tersebut adalah film. Tahap selanjutnya mulai menggunakan pemikiran yang divergen, menyebar dan meluas dari kotak itu. Pikirkanlah hal yang tidak ada atau berbeda dari apa yang dalam kotak itu yang telah kita pahami. Dalam tahap  ini berimajinasilah seluas-luasnya, berpikirlah menyebar, pandang kotak tersebut dari berbagai sudut pandang, atas, bawah, depan, belakang, samping kiri dan kanan, jangan membatasi diri. Posisikan diri sebagai seorang yang berada diluar kotak. Jangan takut berpikir hal-hal yang dianggap tidak wajar atau tidak biasa atau bahkan hal yang sangat sederhana sekalipun dahulu, biarkan imajinasi menjalankan perannya. Karena itu dapat yang menghambat terciptanya ide yang kreatif. Suatu hal dianggap tidak wajar atau tidak biasa dikarenakan hal tersebut belum menjadi sebuah hal yang umum ada dan diterima masyarakat luas. Pada umumnya seringkali hal yang seperti itulah yang dianggap sebagai suatu ide yang kreatif dan cemerlang. Seperti contoh yang diambil sebelumnya, yakni film. Secara umum, film porno adalah sesuatu yang tidak wajar. Tetapi, terlepas dari hukum dan norma yang ada, bagi sebagian orang film porno adalah sesuatu yang kreatif dan sudah dianggap biasa.

Kemudian catatlah hasil imajinasi yang telah dilakukan, apapun itu. Baik hanya sekedar sebuah kata, tema, benda, orang, sudut pandang tertentu atau hal yang sederhana sekalipun. Catatan itulah merupakan dasar dari awal munculnya sebuah ide yang baru.

Lalu dari sekian banyak hal yang telah dicatat, telitilah satu per satu. Gunakan kombinasi pemikiran yang konvergen dan divergen terhadap hal-hal imajinatif tersebut. Fokus dan menyebar, dapat juga menggunakan konsep 5W + 1H atau kombinasikanlah masing-masing diantaranya. Carilah yang relevan dan realistis untuk dilakukan pada saat itu. Bukan seperti film porno diatas, walau mungkin saja hal seperti film porno dapat benar-benar diterima secara legal di masyarakat. Tetapi, ide yang bermanfaat serta sesuai norma tentunya akan jauh lebih baik.

Pada akhirnya, carilah sebanyak-banyak pendapat orang lain mengenai ide tersebut. Jangan takut dianggap aneh, jika memang anggapan tersebut yang muncul berarti awal sebuah ide kreatif telah dicapai.





Manajemen Kreatif Bag. 1 – Tentang Kreatif

5 09 2009

Ada sebuah kata yang mulai populer beberapa tahun belakangan ini. Kata yang terkait dengan pemikiran baru, ide baru, atau sesuatu yang beda dan tidak seperti yang lain. Pemerintah Indonesia pun tahun 2009 ini mulai menggaung-gaungkannya dalam sebuah slogan, yang ditangkap oleh sebagian orang sebagai sebuah tahap awal transformasi ekonomi Indonesia.

Dari terminologinya kata tersebut berhubungan dengan kata ‘kreasi atau creation’ yang berarti karya atau ciptaan dari seseorang. Dimana proses pembuatan atau penciptaan karya tersebut dapat kita sebut sebagai proses ‘desain’. Ya, kata tersebut adalah “kreatif atau creative”.

Kita sering mendengar bahkan tidak jarang dianjurkan oleh orang-orang disekeliling kita, “kreatif, dong!”. Mengapa? Kreatif sering dimaksudkan sebagai proses menghasilkan sebuah ide baru, gagasan cemerlang yang belum pernah ada atau konsep yang belum terpikirkan sebelumnya. Hal ini untuk selalu mendorong kita pada perubahan, tentunya agar menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Wikipedia Indonesia, dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

Tetapi yang sering menjadi persoalan adalah bahwa kreatif itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Yaitu, seperti telah disebut diatas, sebagai orang dengan pemikiran divergen. Memang pada dasarnya manusia itu memiliki 2 pola pikir dasar, secara konvergen dan divergen. Pemikiran konvergen berarti pemikiran atau pola pikir yang terfokus dan spesifik. Sedangkan pemikiran divergen berarti pemikiran yang menyebar dan meluas atau kadang sering dinilai sebagai pemikiran yang ‘nyeleneh’ dengan istilah kerennya ‘out of the box’. Kedua pola pikir ini memang saling bertentangan, hingga manusia secara umum tidak dapat menjalankan keduanya secara simultan. Meskipun begitu dengan pemahaman yang baik terhadap kedua pola pikir tersebut dan kaitannya dalam pemecahan suatu masalah atau penciptaan sesuatu yang baru, manusia dapat mengontrol kedua pola pikir ini.

Dapat dikatakan disini, bahwa secara fundamental semua manusia memiliki potensi kreatif atau potensi untuk dapat menciptakan ide atau gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hanya saja karena tidak mudahnya memahami 2 pola pikir yang saling bertentangan, potensi tersebut menjadi kurang optimal.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya potensi tersebut menjadi optimal? Pada artikel bagian 2 nanti, kita akan mencoba menelaah metode mencari sesuatu yang ‘out of the box’ agar potensi kreatif kita menjadi optimal dengan memanfaatkan kedua pola pikir diatas tadi.

Untuk Indonesia Kreatif. Tetap hargai kreatifitas orang lain, seperti kita menghargai kreatifitas kita sendiri.





Tentang Iman Bag. 2 – Spiritualitas

20 08 2008

Berlanjut tentang iman, bahwa iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Kesimpulan tersebut mendapat sebuah dukungan dari opini yang disampaikan oleh Gede Prama melalui sebuah artikel di Harian KOMPAS Sabtu, 9 Agustus 2008, yang berjudul “Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan”. Pada artikel tersebut disampaikan tentang bagaimana sosok-sosok seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi hingga Mahatma Gandhi menjadi segelintir manusia yang mampu memasuki wilayah yang diumpamakannya sebagai laut.

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Gede Prama mengambil pengggambaran tingkatan spiritualitas manusia dari alam, berupa hujan, sungai dan laut. Digambarkan bahwa sifat hujan itu jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada di bumi, dimana menjelaskan tentang semangat, keras, penuh tenaga atau dapat disebut juga penuh ambisi. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai kehilangan sifat-sifat kerasnya. Walau pada bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas, tetapi dikebanyakan tempat dan waktu air sungai itu lembut. Disungai ini Gede Prama menjelaskan tentang kemampuan manusia meramu antara ketegasan dan kelembutan dalam bertindak. Hingga akhirnya air sungai akan sampai dilaut, sebagai tempat meleburnya dualitas yakni kekerasan dan kelembutan. Disinilah persamaan diantara sosok-sosok yang disebut diatas, yakni melakukan semuanya dengan cinta dan menerima hasilnya dengan keikhlasan. Atau laut diibaratkan lebih lanjut sebagai ibu, bahwa laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta. Serta sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.

Dari penggambaran Gede Prama tersebut, jika di korelasikan dengan pembahasan Tentang Iman bag 1 pada dasarnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah istilah yang digunakan, Gede Prama menggunakan kata spiritualitas dalam penjelasannya, sedangkan sebenarnya ketika kita berbicara spiritualitas itu akan sama dengan berbicara keyakinan dan pola pikir bahwa ada kekuatan Yang Maha Besar yang menguasai alam raya beserta isinya ini. Dengan kata lain, ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan batin tanamkanlah spiritualitas dalam diri kita, terlepas dari aliran spiritual atau dalam kata lain agama yang kita anut.

Itu pulalah yang memperkuat landasan bahwa Islam bukan hanya sekedar agama, bukan hanya sekedar aliran spiritual untuk mencapai kebahagiaan batin, tetapi lebih dari pada itu. Meskipun begitu, sayangnya sebagian besar umat islam saat ini lebih mengedepankan aspek ritualitas dalam Islam tanpa memperkuat aspek spiritualitas yang seharusnya menjadi dasar menjalankan ritual.