“Maukah Kamu Menjadi Istriku?”

25 06 2008

Sebuah Cerita Pendek oleh Arista Diki

Bulan bersinar penuh, memberikan rona cahaya lembut pada permukaan bumi yang semakin membuat khalifah-Nya haus akan kesejukan. Kesunyian pun mulai menerpa penghuni-penghuni alam semesta, termasuk kediaman sederhanaku dan keluarga.

Akan tetapi, “Maukah kamu menjadi istriku?”, pertanyaan itu masih seperti terngiang di telingaku saat kurebahkan tubuhku segera pada tempat tidur kamarku. Pertanyaan yang pasti membuat gemetar hati wanita ketika terucap dari bibir lelaki idamannya. Tapi aku, entahlah. Hatiku terasa biasa saja, aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa. Dulu pada saat ada pertama kali seorang lelaki mengajakku menikah, rasa gemetar itu mencuat. Tapi, saat ini, setelah kesekian kali rasa itu seperti hilang.

“Ya, Allah. Apa hatiku sudah terlalu dingin? Atau lelaki yang bertanya itu bukanlah lelaki idamanku? Tetapi, aku tahu dia tahu lelaki yang baik”. Ucapku sendiri dalam kamar, memohon petunjuk dari-Nya. Aku memang mengagumi perjalanan hidup lelaki itu dan berbagai pemikirannya. Dia memiliki prinsip dan visi hidup yang sama denganku, itu terlihat dari beberapa diskusi kami mengenai hidup. Tapi pada saat dia mengucapkan pertanyaan itu, mengapa hatiku terasa hampa. Senang atau sedihkah aku mendengar pertanyaan itu. Segera aku memohon petunjuk pada-Nya. Kutunaikan sholat 2 rakaat malam itu.

Seusai sholat, aku merasa lebih tenang. Pertanyaan itu dan berbagai pertanyaan lain yang menerpa pikiranku hilang sudah. Kumohon pada-Nya dalam hati untuk memberiku petunjuk. Tidak lama setelah kulepas mukenaku kurebahkan kembali tubuhku ditempat tidur dan kupejamkan mataku.

“Yang penting adalah 2 hal. Akhlak dan agamanya”, beliau menyampaikan padaku.

“Seperti ayah?”, sambungku.

“Ayahmu lelaki yang baik. Suami yang baik. Menurut bunda, ayah yang baik juga. Tapi tentu kamu memiliki keinginan, keluarga seperti apa yang ingin kamu bangun. Selain itu, ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Itulah salah satu tujuan menikah, saling menutupi berbagai kekurangan yang dimiliki masing-masing pasangan”. Bunda yang telah melahirkanku seperempat abad lalu bercerita padaku.

“Tapi, suami itukan imam, bunda. Dia yang akan membawa kemana arah keluarga akan dituju”, komentarku pada bunda.

“Iya. Kamu bagian yang mengingatkan. Sampaikan semua keinginanmu, yang realistis. Insya Allah, dengan akhlak dan agamanyalah, seorang suami akan membawa istri dan anak-anaknya ke jalan yang diridhoi-Nya”, sahut bunda.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Aku terbangun setelah mendengar adzan shubuh itu.

“Astagfirullah, aku bermimpi”. Ku ucap istigfar setelah aku menyadari bahwa aku bermimpi. ‘Ya Allah, Kau telah memberi petunjuk-Mu’, dalam hati kubersyukur. Walau keheranan menghinggap pikiranku, karena mimpi yang alami adalah kejadian ketika bunda memberiku nasehat pada saat pertama kalinya seorang lelaki melamarku. Mungkin itulah cara Allah mengingatkanku. Tanpa ragu aku segera berwudhu guna menunaikan sholat shubuh.

Kesunyian malam mulai sirna dalam rumahku. Ayam jantan pun mulai memanggil penduduk semesta untuk bangkit dari diamnya jasad, berbuat demi kelangsungan kehidupan.

Ayah, bunda dan Fariz, adikku satu-satunya yang masih saja terus bergelut membangun sebuah usaha dengan konsep e-commerce, walau ia juga masih menempuh pendidikan strata 1-nya, baru saja menunaikan sholat shubuh berjamaah. Aku biasanya juga ikut serta berjamaah bersama mereka. Tapi karena peristiwa semalam, pagi ini aku sengaja menunaikan sholat sendiri dikamarku.

“Assalamu ‘alaikum”, suara bunda terdengar didepan pintu kamarku.

“’Alaikum salam”, jawabku. Kulihat bunda datang ketika aku hendak membuka mukenaku.

Bunda memang sering mendatangi kamar anaknya, terutama ketika diketahui anaknya dikamar tetapi tidak ikut sholat berjamaah. Ayah dan bunda memang membiasakan keluarga untuk sholat berjamaah dirumah. Walau hanya aku dan bunda dirumah, karena ayah dan Fariz sholat berjamaah di masjid, hal itu seperti sudah menjadi kewajiban. Apalagi ketika seluruh anggota keluarga sedang tidak kemana-mana.

“Ada apa nih?”, bunda bertanya padaku dan langsung menghampiriku.

“Ngga ada apa-apa, kok, bunda.”sahutku.

“Yang bener?”, tanya bunda kembali.

Begitulah bundaku. Seorang ibu yang sangat luar biasa. Selalu tahu jika anaknya menghadapi masalah. Walau aktifitasnya tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, karena beliau juga merupakan Dekan sebuah fakultas pada sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka, beliau tetap selalu meluangkan waktu memperhatikan anak-anaknya.

“Bener, bunda”, jawabku.

“Ya, udah. Kalau gitu bunda tunggu didapur, ya”, ucap bunda sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku hanya mengangguk-angguk saat itu, sambil melihatnya berlalu meninggalkan kamarku. Aku sengaja menahan dulu bercerita tentang apa yang aku alami semalam. Aku ingin merasa yakin dulu sebelum aku bicara dengan ayah dan bundaku.

Kutinggalkan kamarku sehabis sejenak kuatur kembali beberapa atribut kamarku yang berantakan. Kulihat ayah sudah mulai sibuk dengan laptopnya. Ayah memang sering seperti itu. Beliau termasuk lelaki yang workoholic. Bunda sering agak keras, ketika ayah tetap sibuk dengan pekerjaannya walau sudah larut malam. Tidak jarang aku lihat ayah harus begadang sampai shubuh untuk bekerja. Ayah merupakan salah satu direksi di perusahaan multi nasional yang beliau bangun bersama rekan-rekannya. Selain itu, beliau juga menjadi salah satu staf pengajar disalah satu perguruan tinggi swasta di kota ini yang memang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Beliau memang sosok yang ulet. Semua hal ingin diketahui dan dipelajarinya, apalagi yang menyangkut teknologi. Walaupun bidang pekerjaannya lebih kepada masalah komunikasi dalam pemasaran tetapi filsafat, sastra bahkan politik menjadi daya tarik tersendiri baginya. “Yang penting kita memahami esensi dasarnya. Kalau ada masalah, setidaknya kita tahu kenapa hal itu bisa terjadi”, ujar ayah suatu ketika saat aku menanyakan alasan beliau belajar berbagai macam hal.

Tidak cuma dengan pekerjaannya saja ayah sibuk. Beliau sering juga meluangkan waktu berkumpul dengan teman-teman lamanya semasa SMU dulu. Bahkan selang waktu beliau juga tetap menjalankan hobi beliau sejak remaja dulu, yaitu hiking. “Ya, kita kan perlu refreshing”, jawab ayah kalau ditanya alasan mengapa terus melakukan hiking. Tidak jarang aku dan Fariz diajak hiking oleh ayah. Sebenarnya ayah pun sangat ingin bunda turut serta, tetapi karena alergi dingin yang dimiliki bunda, membuat bunda tidak dapat ikut. Aku ingat sekali 2 tahun lalu, ketika ayah, aku dan Fariz mendaki gunung Gede Pangrango. Betapa ayah pada saat itu bercerita bahwa beliau sering kali merasa bersalah ketika hiking karena meninggalkan bunda demi kesenangannya sendiri. Walaupun bunda mengijinkan tetapi rasa bersalah itu tetap menghinggapinya. “Habis mau gimana lagi, bunda kalian ngga bisa ikut, sih”, cerita ayah ketika itu pada kami.

Walaupun begitu, aku tetap melihat ayah sebagai sosok ayah dan suami yang baik. Perhatiannya padaku dan Fariz tidak pernah terlewat sedikit pun. Setiap malam selalu saja ada perbincangan diantara kami dengan ayah, tidak jarang ketegasan ayah terlihat pada saat itu. Meskipun diluar kota atau ketika harus pulang larut malam, komunikasi pada kami dan bunda tetap ayah lakukan. Bahkan kalau dengan bunda, intensitas komunikasinya seperti sudah menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi. Sejak dulu pun ketika aku dan Fariz mulai dapat ditinggal sendiri dirumah, ayah dan bunda sering jalan bersama sampai sekarang. Mereka sering nonton bioskop. “Untuk mempelajari teknik filmnya”, alasan yang mereka berikan pada kami. Padahal aku tahu mereka sering begitu untuk terus menjaga keharmonisan hubungan diantara mereka. Film memang merupakan salah satu bukti kehebatan ayah dan bunda ketika berkolaborasi. Salah satu aktifitas untuk menuangkan idealisme yang mereka miliki, ayah bunda sering membuat film independent bersama. Sudah lebih dari 15 judul film independent yang mereka hasilkan semenjak mereka menikah. Walau tidak semua masuk nominasi di beberapa festival film, tapi film yang dihasilkan menurutku sudah sangat bagus.

Ayah bundaku memang kombinasi yang unik. Seorang lelaki yang sangat menggemari kesederhanaan, pekerja dan pemikir keras dan tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Serta seorang wanita bersahaja, dengan kelembutan dan kasih sayangnya ia menegaskan prinsipnya. Aku teringat apa yang ayah sampaikan tahun lalu, ketika pernikahan ayah dan bunda memasuki masa pernikahan perak. Ayah bercerita bahwa ada 5 faktor pokok yang harus terus dipelihara dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelima faktor itu adalah komitmen, saling menghargai, komunikasi, sabar dan tawakal. Memang kelima factor itulah menurut pengamatanku yang membuat ayah bundaku menjadi pasangan yang patut diteladani.

“Lagi ada proyek apa nih, yah?”, tanyaku pada ayah setelah kuhampiri.

“Ngga ada apa-apa. Lagi mempelajari proposal aja. Kamu udah sholat belum?”.

“Udah. Proposal apa nih?”.

“Proposal rekonstruksi lahan perkebunan pasca gempa”, jawab ayah.

“Ooo… perlu bantuan ngga?”, tanyaku sambil kulihat tulisan di laptopnya.

Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Yang sudah master agro industi. Nanti kalau ayah udah mentok, ya. Konsultasinya gratis kan?”.

“Wah, kalau buat ayah, spesial discount seribu persen”, ucapku dengan penuh semangat.

“Wow. Oke”, sahut ayah sambil mengusap kepalaku. Tidak lama kemudian aku pun meninggalkan ayah dengan laptopnya.

Ternyata Allah telah memberikanku petunjuk-Nya. Puji syukur kupanjatkan dalam hati atas apa yang dilimpahkan-Nya padaku. Baik untuk saat ini maupun atas rahmat-Nya yang telah memberikan keluarga yang sangat luar biasa bagiku.

SELESAI.





Jilbab Putih

15 08 2005

Pagi itu pukul 07.30, untuk yang kedua kalinya, aku melihat wanita muda itu. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan jilbab putihnya. Sepertinya dia juga sedang menunggu kereta api listrik tujuan Jakarta yang akan berangkat sekitar setengah jam lagi.
Tidak seperti kemarin, sejak aku tiba di stasiun yang selalu padat setiap pagi itu, perhatianku terhadap sekitar, yang penuh dengan berbagai macam orang, langsung terpaku kepadanya. Dia sudah duduk di peron sambil membaca sebuah buku.
Walaupun sebenarnya sering kujumpai wanita-wanita berjilbab, tetapi kali ini kurasakan sosok wanita itu sangat berbeda.
Aku terpaku memandanginya. Wajahnya yang putih bersih, penuh dengan kesejukan dan ketenangan, serta menyiratkan kepandaian yang di balut dengan akhlak yang sholihah, meskipun di balik wajahnya itu tetap terlihat bahwa dia memiliki suatu masalah yang sulit terpecahkan. Aku terbayang, betapa damai dan tentram lelaki yang mendampinginya. Kalau saja semua wanita di dunia ini seperti dia, pasti tidak akan ada pemerkosaan, perselingkuhan ataupun pelacuran. Para lelaki akan sangat betah di rumah dan akan terus bersemangat untuk menjadi lebih baik.
Aku perhatikan buku yang di bacanya, ternyata berjudul, ‘Nilai Kerja dalam Islam’. Mungkin, dia baru saja dapat kerja kemarin, ucapku dalam hati.
Kereta yang akan membawaku, ke perusahaan tempatku bekerja pun tiba dan segera akan di berangkatkan kembali. Para penumpang pun langsung menyerbu delapan gerbong tersebut.

===== + =====

Hari ini hari Minggu. Sudah beberapa hari ini banyak perubahan yang terjadi pada diriku. Aku selalu bangun pada saat adzan shubuh berkumandang, sehingga sholatku pun tidak bolong lagi. Bahkan, selepas pulang dari kantor, aku cenderung lebih suka tinggal di rumah daripada keluyuran bersama teman-teman kantorku seperti biasanya.
Entah apa yang terjadi pada diriku. Baru beberapa hari bertemu wanita berjilbab itu, aku merasa telah menjadi orang lain. Sekarang aku merasa ingin lebih menghargai hidupku yang singkat ini. Seperti halnya wanita itu. Walaupun kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas setiap harinya, tetapi ia tetap terlihat tenang dan bersahaja.
Kenapa diriku begitu terpengaruh olehnya. Padahal kami hanya bertemu sekali setiap harinya, itu pun hanya beberapa menit saja. Karena dia selalu turun di stasiun Pondok Kopi, dimana hanya sekitar 15 menit saja perjalanan dari stasiun Bekasi, tempat aku melihatnya pertama kali.
Lalu, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya. Kami memang tidak bertemu hari ini dan aku akui, aku sangat menantikan bertemu dengannya esok. Apa aku rindu dengannya. Apa aku jatuh cinta dengannya.
Dari sekian pertanyaan tersebut, setidaknya satu hal yang aku rasakan sepekan ini. Aku merasa malu untuk mendekatinya. Dia terlihat begitu cerdas, alim dan sholihah. Sedangkan diriku lebih cenderung urakan, cuek, bahkan bisa di bilang munafik. Apa aku pantas mendampinginya.
Padahal, soal mendekati wanita, selama ini aku selalu merasa percaya diri. Dengan penampilan yang trendy, wajahku yang cukup tampan dan penghasilanku yang cukup besar, banyak wanita yang langsung lengket ibarat perangko. Tetapi, wanita-wanita yang kudekati itu berbeda dengan sosok wanita berjilbab yang satu ini. Mereka memang cantik-canti dan seksi. Hanya saja sikap mereka lebih suka untuk berhura-hura saja.

==== + ====

Dua minggu berlalu. Aku tidak melihatnya dua hari ini. Kemarin, aku berpikir mungkin dia terlambat datang, sehingga ketinggalan kereta. Atau malah dia berangkat menggunakan kereta yang lebih awal. Tapi hari ini aku juga tidak melihatnya, mungkinkah dia terlambat lagi atau jadwal kerjanya berubah lebih awal.
Ah…aku bingung, hatiku terus bertanya-tanya. Ada apa dengannya. Apa telah terjadi sesuatu.
Padahal baru dua hari saja aku tidak bertemu dengannya, bahkan aku pun belum tahu namanya. Tapi kerinduanku terasa bagaikan tak berjumpa selama 2 tahun. Walaupun hanya untuk memandanginya selama beberapa menit saja, aku ingin sekali melakukannya.
Perasaanku ini semakin bergejolak, aku ingat bahwa besok adalah hari Minggu. Sehingga aku harus menahan keinginanku menjumpainya sampai esok lusa. Itu pun kalau saja aku bertemu dengannya. Tapi, aku sudah berencana untuk datang ke stasiun lebih awal. Supaya apabila ia menggunakan kereta lebih awal, aku dapat melihatnya.

==== + ====

Suasana stasiun itu masih terlihat agak lengang. Ternyata kalau kita berangkat lebih pagi, akan terasa lebih nyaman karena masih belum terlalu ramai.
Mataku berkeliaran ke setiap sudut stasiun, untuk menemukan sosok wanita yang telah merebut hatiku. Tetapi, bayangannya pun belum ku lihat sejak aku tiba di stasiun itu. Hatiku semakin tidak menentu. Bingung harus berbuat apa, cemas, rindu, marah, kecewa, semua berkumpul di kepalaku.
Kegundahan hatiku kian bertambah, seiring berangkatnya kereta yang biasa kunaiki. Kubiarkan saja kereta itu, tak apalah aku terlambat ke kantor hari ini, aku akan menggunakan kereta berikutnya, yang penting aku dapat bertemu dengannya.
Tetapi, tetap saja tak terlihat sosoknya. Aku sempat berpikir untuk memanggilnya melalui pusat informasi stasiun, tapi kami pun belum saling mengenal. Aku jelajahi setiap jengkal stasiun itu dengan perasaan yang tak karuan.
Tiba-tiba, penjelajahanku itu terhenti, di temapt aku memulainya. Kulihat sesosok wanita berjilbab putih dengan gaun muslimah berwarna biru. Ternyata dialah wanita perebut hatiku, wanita yang telah kunanti-nantikan. Bahagianya hatiku, kecemasanku tidak terbukti setelah kulihat kecantikannya, kerinduanku terobati setelah memandang keanggunannya, kemarahanku luntur berkat ketenangannya dan kekecewaanku pun raib seketika dengan kehadirannya.
Lalu, apa yang harus kulakukan. Telah kunantikan sosoknya yang mempesona itu, walau baru tiga hari, tapi penantianku itu terasa bagai bertahun-tahun lamanya. Mungkin seperti biasanya, aku hanya memandanginya saja. Karena perasaan malu untuk mendekatinya masih terus menghantuiku.
Kuperhatikan terus wanita idamanku itu, di balik ketenangannya tersirat di wajahnya kesedihan yang amat mendalam. Seperti telah terjadi suatu musibah terhadapnya. Sorot matanya mengesankan bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang snagat bernilai baginya. Kedua matanya terlihat agak bengkak, seperti habis menangis.
Apa yang telah terjadi tiga hari ini dengannya. Musibah apa yang menimpanya.
Pertanyaan itu menambah kebingunganku. Kecemasanku pun muncul kembali. Aku ingin sekali membantu wanita yang membuat kapal hatiku menurunkan jangkar di pelabuhan hatinya. Tetapi percaya diriku masih saja tenggelam dalam pesonanya.
Di sisi lain, rasa sayang kepadanya terus mendorongku untuk mendekatinya. Rasa sayang untuk menghilangkan kepedihannya. Sehingga kecantikan dan kesejukan wajahnya dapat terpancar kembali.
Pergolakan batinku terus membawaku ke dalam gejolak kebimbangan.
Walaupun begitu, akhirnya dengan rasa kasih sayang yang amat sangat, kucoba memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Maaf, mbak”, ucapku membuka percakapan.
“Iya, ada apa, ya ?” Jawabnya dengan tenang.
“Mmh…”.
“Oh, anda yang biasanya naik kereta yang baru saja berangkat, kan ?” Timpalnya menjawab kebingunganku untuk bicara.
“Iya”.
Hatiku sempat berbinar-binar, ternyata dia memperhatikan juga.
“Anda memperhatikan juga yach ?” Jawabku dengan mencoba menutupi kegembiraan hatiku.
“Ah, tidak juga”.
“Maaf, saya hanya ingin menanyakan”, kataku terbata-bata karena kegugupanku untuk menutupi kegembiraan yang kurasakan. “Anda terlihat amat sedih, mata anda pun terlihat agak bengkak, apalagi saya pun tidak melihat anda beberapa hari ini di stasiun ini. Kalau boleh saya tahu, ada masalah apa ?”. tiba-tiba saja ucapanku lancar.
“Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya. Selama beberapa minggu ini, saya selalu ke rumah sakit yang ada di dekat stasiun Pondok Kopi, ibunda saya di rawat di sana karena penyakit kankernya”. Jawab wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
“Saat ini saya ingin mengurus beberapa administrasi rumah sakit yang belum selesai”, sambungnya.
“Berarti, ibu anda telah sembuh”.
“Tidak, beliau telah meninggal dunia”. Jawabnya disertai tetesan air mata di pipinya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.

==== SELESAI ====