Tentang Iman Bag. 2 – Spiritualitas

20 08 2008

Berlanjut tentang iman, bahwa iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Kesimpulan tersebut mendapat sebuah dukungan dari opini yang disampaikan oleh Gede Prama melalui sebuah artikel di Harian KOMPAS Sabtu, 9 Agustus 2008, yang berjudul “Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan”. Pada artikel tersebut disampaikan tentang bagaimana sosok-sosok seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi hingga Mahatma Gandhi menjadi segelintir manusia yang mampu memasuki wilayah yang diumpamakannya sebagai laut.

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Gede Prama mengambil pengggambaran tingkatan spiritualitas manusia dari alam, berupa hujan, sungai dan laut. Digambarkan bahwa sifat hujan itu jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada di bumi, dimana menjelaskan tentang semangat, keras, penuh tenaga atau dapat disebut juga penuh ambisi. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai kehilangan sifat-sifat kerasnya. Walau pada bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas, tetapi dikebanyakan tempat dan waktu air sungai itu lembut. Disungai ini Gede Prama menjelaskan tentang kemampuan manusia meramu antara ketegasan dan kelembutan dalam bertindak. Hingga akhirnya air sungai akan sampai dilaut, sebagai tempat meleburnya dualitas yakni kekerasan dan kelembutan. Disinilah persamaan diantara sosok-sosok yang disebut diatas, yakni melakukan semuanya dengan cinta dan menerima hasilnya dengan keikhlasan. Atau laut diibaratkan lebih lanjut sebagai ibu, bahwa laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta. Serta sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.

Dari penggambaran Gede Prama tersebut, jika di korelasikan dengan pembahasan Tentang Iman bag 1 pada dasarnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah istilah yang digunakan, Gede Prama menggunakan kata spiritualitas dalam penjelasannya, sedangkan sebenarnya ketika kita berbicara spiritualitas itu akan sama dengan berbicara keyakinan dan pola pikir bahwa ada kekuatan Yang Maha Besar yang menguasai alam raya beserta isinya ini. Dengan kata lain, ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan batin tanamkanlah spiritualitas dalam diri kita, terlepas dari aliran spiritual atau dalam kata lain agama yang kita anut.

Itu pulalah yang memperkuat landasan bahwa Islam bukan hanya sekedar agama, bukan hanya sekedar aliran spiritual untuk mencapai kebahagiaan batin, tetapi lebih dari pada itu. Meskipun begitu, sayangnya sebagian besar umat islam saat ini lebih mengedepankan aspek ritualitas dalam Islam tanpa memperkuat aspek spiritualitas yang seharusnya menjadi dasar menjalankan ritual.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.