Tentang Iman

25 07 2008

Membahas mengenai iman, khususnya dalam Islam yang dianut sebagian besar warga Negara Indonesia memang bukan hal mudah. Seperti yang telah disampaikan khotib khutbah Jum’at disalah satu masjid di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur siang ini. Khutbah selama kurang lebih 25 menit itu berisi kisah-kisah kekuatan iman dari para Sahabat Nabi, Pejuang Islam dan para mualaf, dimana mereka beriman atas pemahamannya terhadap Islam itu sendiri. Diceritakan bahwa betapa mantapnya kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan, hingga benar-benar tidak tergoyahkan atas alasan apapun. Bahkan mereka dapat memberikan kontribusi lebih terhadap Islam itu sendiri. Menyimak khutbah tersebut, spontan timbul pertanyaan yang juga menjadi pokok pertanyaan khutbah itu, sejauh mana kekuatan iman kita – sebagian besar umat islam di Indonesia – yang mana ‘beragama islam’ sejak lahir?

Tetapi, tidak hanya pertanyaan diatas yang timbul dalam pikiran saya. Saya jadi teringat mengenai pertanyaan seorang teman. Ia bertanya,”Tujuan agama untuk meraih kebahagian batin. Allah berfiman bahwa hanya satu agama yang benar. Lalu mengapa pendeta, pastur, biksu atau pemuka agama lain yang telah dianggap imam bagi jamaahnya atau telah sampai pada derajat tertinggi terlihat begitu bahagia batinnya?”. Sejak saat pertanyaan itu diajukan beberapa bulan lalu, saya tidak memiliki jawaban yang cukup jelas sampai saat khutbah siang tadi.

Jawabannya sebenarnya pada persepsi kita terhadap iman itu sendiri. Sejauh ini kita menganggap iman hanyalah sekedar ‘percaya’ saja. Padahal ‘iman’ lebih dari itu. Iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Dimana dalam hati dan pikiran kita sadar dan yakin sepenuhnya bahwa ada kekuatan yang Maha Besar yang memberi dan menopang hidup kita. Kesadaran dan keyakinan itu tertanam dan terwujud secara nyata terus menerus setiap detik waktu berjalan sepanjang hidup kita. Atas kesadaran dan keyakinan itu, tentu akan tercermin dalam sikap keseharian kita.

Kodrat kita sebagai manusia memang terus berupaya memenuhi nafsu, terkadang dengan berbagai cara. Hingga kesombongan, kesewenang-wenangan ataupun ketidaksopanan menjadi hal yang lumrah untuk pemenuhan nafsu tersebut. Tetapi, ketika kita menyadari serta meyakini ada kekuatan Yang Maha Besar darinya, yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk diri kita, tentu hati dan pikiran akan menimbang ulang setiap tindakan yang akan kita berbuat. Apakah pantas kita berbuat itu dan setujukah Yang Maha Besar jika berbuat itu? Bagaimana jika Ia tidak menyetujuinya? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Karena pertimbangan itulah, akhirnya timbul sikap kerendahan hati, kesabaran, toleransi dan lain sebagainya. Dunia pun akan menjadi tempat pengabdian kita kepada-Nya. Kita akan selalu berupaya memenuhi kehendak-Nya, agar kita tidak dimurkai-Nya. Dengan begitu ketenangan atau bahkan kebahagiaan batin bukanlah hal yang mustahil akan kita rasakan karena kita sadar dan yakin telah ada kekuatan Yang Maha Besar dari apapun dialam semesta yang akan selalu melindungi setiap langkah kita.

Itulah mengapa para pemuka agama yang ditanyakan seorang teman diatas dapat merasakan kebahagiaan batin. Keyakinan dan pola pikir mereka tertanam iman, terlepas dari tata cara pengabdian yang mereka lakukan. Iman terhadap hal yang mereka imani sebagai kekuatan Yang Maha Besar yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Karena itu juga dalam Islam kita mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat. Kalimat pertama merupakan Ikrar bahwa keyakinan dan pola pikir kita sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Kalimat Kedua merupakan Ikrar bahwa Muhammad adalah Rasulullah yang membawa risalah (tata cara pengabdian) dari ALLAH SWT. Kedua kalimat itu kita ikrarkan dan laksanakan untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, tingkatan yang lebih tinggi daripada iman.

Semoga kita tergolong orang-orang yang beriman. Amin.