Tentang Iman Bag. 2 – Spiritualitas

20 08 2008

Berlanjut tentang iman, bahwa iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Kesimpulan tersebut mendapat sebuah dukungan dari opini yang disampaikan oleh Gede Prama melalui sebuah artikel di Harian KOMPAS Sabtu, 9 Agustus 2008, yang berjudul “Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan”. Pada artikel tersebut disampaikan tentang bagaimana sosok-sosok seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi hingga Mahatma Gandhi menjadi segelintir manusia yang mampu memasuki wilayah yang diumpamakannya sebagai laut.

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Harian KOMPAS 9 Agustus 2008

Gede Prama mengambil pengggambaran tingkatan spiritualitas manusia dari alam, berupa hujan, sungai dan laut. Digambarkan bahwa sifat hujan itu jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada di bumi, dimana menjelaskan tentang semangat, keras, penuh tenaga atau dapat disebut juga penuh ambisi. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai kehilangan sifat-sifat kerasnya. Walau pada bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas, tetapi dikebanyakan tempat dan waktu air sungai itu lembut. Disungai ini Gede Prama menjelaskan tentang kemampuan manusia meramu antara ketegasan dan kelembutan dalam bertindak. Hingga akhirnya air sungai akan sampai dilaut, sebagai tempat meleburnya dualitas yakni kekerasan dan kelembutan. Disinilah persamaan diantara sosok-sosok yang disebut diatas, yakni melakukan semuanya dengan cinta dan menerima hasilnya dengan keikhlasan. Atau laut diibaratkan lebih lanjut sebagai ibu, bahwa laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta. Serta sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.

Dari penggambaran Gede Prama tersebut, jika di korelasikan dengan pembahasan Tentang Iman bag 1 pada dasarnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah istilah yang digunakan, Gede Prama menggunakan kata spiritualitas dalam penjelasannya, sedangkan sebenarnya ketika kita berbicara spiritualitas itu akan sama dengan berbicara keyakinan dan pola pikir bahwa ada kekuatan Yang Maha Besar yang menguasai alam raya beserta isinya ini. Dengan kata lain, ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan batin tanamkanlah spiritualitas dalam diri kita, terlepas dari aliran spiritual atau dalam kata lain agama yang kita anut.

Itu pulalah yang memperkuat landasan bahwa Islam bukan hanya sekedar agama, bukan hanya sekedar aliran spiritual untuk mencapai kebahagiaan batin, tetapi lebih dari pada itu. Meskipun begitu, sayangnya sebagian besar umat islam saat ini lebih mengedepankan aspek ritualitas dalam Islam tanpa memperkuat aspek spiritualitas yang seharusnya menjadi dasar menjalankan ritual.





Fatwa MUI : ROKOK = HARAM

15 08 2008

Mulai hari ini rokok merupakan barang haram. Sepintas, ini mungkin terasa aneh. Kok tiba-tiba berubah, yang dari dulu diketahui makruh sekarang dikatakan haram. Tapi memang begitu kenyataannya. Walau memang disampaikan juga bahwa bukan ketentuan yang mengikat. Sebenarnya apa dasar hukumnya? Lalu apa yang harus kita perbuat dengan ketentuan itu?

Ada beberapa ketentuan dalam Islam yang mendasari rokok menjadi barang haram. Hal ini sebenarnya sudah menjadi wacana lebih dari 2 dekade lalu pada zaman order baru, tetapi tidak dipublikasikan. Ketentuan dalam Al-Qur’an diantaranya :

  • Rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin atau dengan kata lain dapat menyebabkan kematian. Hukum tentang perbuatan yang menyebabkan kematian dijelaskan dalam Al-Qur’an yang terjemahannya adalah: “…dan janganlah kamu membunuh jiwa…” (QS 6:151).
  • Tubuh kita merupakan amanah dari Allah yang harus selalu dijaga. Mengkonsumsi barang-barang yang dapat mengganggu fungsi raga dan akal (intoxicant) adalah perbuatan yang dilarang atau haram. Misalnya minum alkohol atau menggunakan narkoba. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an yang terjemahannya adalah : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah kekejian, termasuk perbuatan setan. Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu sukses” (QS 5:90).
  • Harta yang kita miliki juga merupakan titipan dari Allah, untuk itu tentunya tidaklah pantas jika dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sejauh ini rokok masih belum banyak memberikan manfaat lebih dibandingkan mudharat yang ditimbulkannya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan sebagai berikut: “…dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar pada Tuhannya” (QS 17: 26-27).

Selain dari ketiga ayat tersebut, dalam beberapa hadist yang membuat rokok/merokok merupakan barang/perbuatan yang dilarang. Diantaranya Sabda Rasulullah :

  • “Siapa yang makan dari tanaman ini (bawang putih) maka jangan mendekat masjid kami” (HR Bukhari-Muslim).
    Hadist ini menerangkan larangan mendatangi masjid bagi orang-orang yang habis makan bawang putih/bawang merah mentah, karena bau tak sedap yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan merokok. Diketahui bahwa merokok juga dapat menyebabkan bau nafas yang kurang sedap.
  • “Setiap yang mengganggu fungsi akal (intoxicant) adalah khamr dan setiap khamr adalah haram” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
    Hadist ini memperjelas Firman Allah seperti yang disampaikan diatas.

Petikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah cukup jelas menggambarkan kedudukan rokok dalam Islam. Tapi, mengapa MUI mengeluarkan fatwa yang tidak mengikat. Tentu bukan tanpa sebab juga MUI memutuskan hal seperti itu.

Terlepas dari struktur kelembagaan MUI dalam negara RI. Kita mungkin sudah dapat menebak alasan mengapa fatwa MUI yang satu ini bersifat tidak mengikat. Karena rokok telah menjadi industri yang terlanjur menjadi besar, tentu pertimbangan utamanya adalah hajat hidup tidak sedikit warga. Baik yang terlibat dalam industri dari hulu sampai hilir, maupun masyarakat luas yang tersokong atas pajak dari industri rokok tersebut. Tapi MUI telah menetapkan bahwa rokok itu haram dan bukankah segala sesuatu yang bersumber dari yang haram tentunya akan menjadi haram juga. Lalu bagaimana dengan hukum dari segala bentuk keuntungan yang dihasilkan dari industri rokok seperti pajak misalnya ?

Untuk itu, mungkin untuk saat ini tidak ada salahnya, jika kita menyimak hadist Rasulullah berikut : “Sesungguhnya segala amal bergantung pada niat”. (Muttafaqun ‘alaih) dan firman Allah : “Supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2).

Dari hadist tersebut diatas, kita sebagai muslim dapat membuat pilihan tentang apa yang dapat kita lakukan saat ini diantaranya :

  • Menuntut kepada pemerintah untuk penetapan bahwa rokok adalah ilegal, karena barang haram, statusnya tidak berbeda dengan narkoba. Tapi konsekuensinya akan terjadi gejolak luar biasa dalam masyarakat.
  • Tetap seperti saat ini, perokok tetap merokok agar industri dapat berjalan. Tetapi, HARUS dengan NIAT untuk menjaga stabilitas dalam masyarakat dan harus juga ditambah dengan upaya berkesinambungan mengalihkan industri rokok pada industri lainnya.

Mana yang akan kita pilih? Putuskanlah !!!

NB: Tulisan ini mungkin hanya sekedar pembelaan, dimana pada saat tulisan ini dibuat penulis masih ditemani sebatang rokok.





Tentang Iman

25 07 2008

Membahas mengenai iman, khususnya dalam Islam yang dianut sebagian besar warga Negara Indonesia memang bukan hal mudah. Seperti yang telah disampaikan khotib khutbah Jum’at disalah satu masjid di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur siang ini. Khutbah selama kurang lebih 25 menit itu berisi kisah-kisah kekuatan iman dari para Sahabat Nabi, Pejuang Islam dan para mualaf, dimana mereka beriman atas pemahamannya terhadap Islam itu sendiri. Diceritakan bahwa betapa mantapnya kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan, hingga benar-benar tidak tergoyahkan atas alasan apapun. Bahkan mereka dapat memberikan kontribusi lebih terhadap Islam itu sendiri. Menyimak khutbah tersebut, spontan timbul pertanyaan yang juga menjadi pokok pertanyaan khutbah itu, sejauh mana kekuatan iman kita – sebagian besar umat islam di Indonesia – yang mana ‘beragama islam’ sejak lahir?

Tetapi, tidak hanya pertanyaan diatas yang timbul dalam pikiran saya. Saya jadi teringat mengenai pertanyaan seorang teman. Ia bertanya,”Tujuan agama untuk meraih kebahagian batin. Allah berfiman bahwa hanya satu agama yang benar. Lalu mengapa pendeta, pastur, biksu atau pemuka agama lain yang telah dianggap imam bagi jamaahnya atau telah sampai pada derajat tertinggi terlihat begitu bahagia batinnya?”. Sejak saat pertanyaan itu diajukan beberapa bulan lalu, saya tidak memiliki jawaban yang cukup jelas sampai saat khutbah siang tadi.

Jawabannya sebenarnya pada persepsi kita terhadap iman itu sendiri. Sejauh ini kita menganggap iman hanyalah sekedar ‘percaya’ saja. Padahal ‘iman’ lebih dari itu. Iman adalah mengenai keyakinan dan pola pikir. Dimana dalam hati dan pikiran kita sadar dan yakin sepenuhnya bahwa ada kekuatan yang Maha Besar yang memberi dan menopang hidup kita. Kesadaran dan keyakinan itu tertanam dan terwujud secara nyata terus menerus setiap detik waktu berjalan sepanjang hidup kita. Atas kesadaran dan keyakinan itu, tentu akan tercermin dalam sikap keseharian kita.

Kodrat kita sebagai manusia memang terus berupaya memenuhi nafsu, terkadang dengan berbagai cara. Hingga kesombongan, kesewenang-wenangan ataupun ketidaksopanan menjadi hal yang lumrah untuk pemenuhan nafsu tersebut. Tetapi, ketika kita menyadari serta meyakini ada kekuatan Yang Maha Besar darinya, yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk diri kita, tentu hati dan pikiran akan menimbang ulang setiap tindakan yang akan kita berbuat. Apakah pantas kita berbuat itu dan setujukah Yang Maha Besar jika berbuat itu? Bagaimana jika Ia tidak menyetujuinya? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Karena pertimbangan itulah, akhirnya timbul sikap kerendahan hati, kesabaran, toleransi dan lain sebagainya. Dunia pun akan menjadi tempat pengabdian kita kepada-Nya. Kita akan selalu berupaya memenuhi kehendak-Nya, agar kita tidak dimurkai-Nya. Dengan begitu ketenangan atau bahkan kebahagiaan batin bukanlah hal yang mustahil akan kita rasakan karena kita sadar dan yakin telah ada kekuatan Yang Maha Besar dari apapun dialam semesta yang akan selalu melindungi setiap langkah kita.

Itulah mengapa para pemuka agama yang ditanyakan seorang teman diatas dapat merasakan kebahagiaan batin. Keyakinan dan pola pikir mereka tertanam iman, terlepas dari tata cara pengabdian yang mereka lakukan. Iman terhadap hal yang mereka imani sebagai kekuatan Yang Maha Besar yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Karena itu juga dalam Islam kita mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat. Kalimat pertama merupakan Ikrar bahwa keyakinan dan pola pikir kita sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Kalimat Kedua merupakan Ikrar bahwa Muhammad adalah Rasulullah yang membawa risalah (tata cara pengabdian) dari ALLAH SWT. Kedua kalimat itu kita ikrarkan dan laksanakan untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, tingkatan yang lebih tinggi daripada iman.

Semoga kita tergolong orang-orang yang beriman. Amin.





Sebuah Keputusan

28 06 2008

‘Keputusan’, sebuah kata benda yang berasal dari kata dasar berupa kata sifat yaitu ‘putus’. Dalam bahasa Indonesia, secara harfiah kata ‘putus’ berarti menunjukkan sebuah kondisi dari suatu hal dimana sebelumnya bersambungan atau merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpisah atau menjadi 2 hal yang memiliki jarak dan terdapat pembatas diantaranya. Hingga ketika ditambah dengan awalan ‘ke-‘ dan akhiran ‘-an’ dapat diartikan menjadi sebuah hal yang menjadi pemisah atau pembatas.

Oleh karena merupakan pemisah atau pembatas, sebuah keputusan menjadi suatu hal yang sangat penting keberadaannya. Karena pemisah atau pembatas ini sangat diperlukan untuk membuat suatu kondisi menjadi tidak terbatas, yang menyebabkan kondisi tersebut menjadi hampa tanpa batas ruang dan waktu, hingga seakan menjadi abadi. Sedangkan dalam hukum alam nyata, tidak ada sebuah kondisi yang abadi. Sebuah kondisi  akan dapat ideal jika memiliki batas ruang dan waktu. Batas tersebutlah yang mengakibatkan adanya perbedaan serta pergerakan. Adanya perbedaan akan mempertegas identitas suatu hal dan adanya pergerakan akan memperlihatkan suatu perubahan.

Dari sedikit uraian diatas dapat disimpulkan bahwa adanya sebuah ‘keputusan’ – dalam alam nyata – sangat diperlukan untuk membuat suatu hal yang bersambungan atau menyatu menjadi memiliki batas dan jarak diantaranya. Adanya batas dan jarak memang akan menimbulkan gesekan diantara 2 kondisi yang telah tidak bersambungan tersebut. Tetapi dampak yang muncul dari timbulnya gesekan tersebut dalam jangka waktu yang singkat atau lambat akan berskala besar. Dampak ini merupakan tuntutan dari hukum alam nyata berikutnya setelah perbedaan, yaitu perubahan.

Itulah mengapa sebuah ‘keputusan’ menjadi sebuah hal yang sangat sulit untuk dibuat. Perubahan yang signifikan cepat atau lambat hampir dapat dipastikan akan dirasakan, baik itu positif maupun negatif. Hanya dengan kebijaksanaan dan ketegasanlah perubahan yang diharapkan akan dapat diraih.





“Maukah Kamu Menjadi Istriku?”

25 06 2008

Sebuah Cerita Pendek oleh Arista Diki

Bulan bersinar penuh, memberikan rona cahaya lembut pada permukaan bumi yang semakin membuat khalifah-Nya haus akan kesejukan. Kesunyian pun mulai menerpa penghuni-penghuni alam semesta, termasuk kediaman sederhanaku dan keluarga.

Akan tetapi, “Maukah kamu menjadi istriku?”, pertanyaan itu masih seperti terngiang di telingaku saat kurebahkan tubuhku segera pada tempat tidur kamarku. Pertanyaan yang pasti membuat gemetar hati wanita ketika terucap dari bibir lelaki idamannya. Tapi aku, entahlah. Hatiku terasa biasa saja, aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa. Dulu pada saat ada pertama kali seorang lelaki mengajakku menikah, rasa gemetar itu mencuat. Tapi, saat ini, setelah kesekian kali rasa itu seperti hilang.

“Ya, Allah. Apa hatiku sudah terlalu dingin? Atau lelaki yang bertanya itu bukanlah lelaki idamanku? Tetapi, aku tahu dia tahu lelaki yang baik”. Ucapku sendiri dalam kamar, memohon petunjuk dari-Nya. Aku memang mengagumi perjalanan hidup lelaki itu dan berbagai pemikirannya. Dia memiliki prinsip dan visi hidup yang sama denganku, itu terlihat dari beberapa diskusi kami mengenai hidup. Tapi pada saat dia mengucapkan pertanyaan itu, mengapa hatiku terasa hampa. Senang atau sedihkah aku mendengar pertanyaan itu. Segera aku memohon petunjuk pada-Nya. Kutunaikan sholat 2 rakaat malam itu.

Seusai sholat, aku merasa lebih tenang. Pertanyaan itu dan berbagai pertanyaan lain yang menerpa pikiranku hilang sudah. Kumohon pada-Nya dalam hati untuk memberiku petunjuk. Tidak lama setelah kulepas mukenaku kurebahkan kembali tubuhku ditempat tidur dan kupejamkan mataku.

“Yang penting adalah 2 hal. Akhlak dan agamanya”, beliau menyampaikan padaku.

“Seperti ayah?”, sambungku.

“Ayahmu lelaki yang baik. Suami yang baik. Menurut bunda, ayah yang baik juga. Tapi tentu kamu memiliki keinginan, keluarga seperti apa yang ingin kamu bangun. Selain itu, ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Itulah salah satu tujuan menikah, saling menutupi berbagai kekurangan yang dimiliki masing-masing pasangan”. Bunda yang telah melahirkanku seperempat abad lalu bercerita padaku.

“Tapi, suami itukan imam, bunda. Dia yang akan membawa kemana arah keluarga akan dituju”, komentarku pada bunda.

“Iya. Kamu bagian yang mengingatkan. Sampaikan semua keinginanmu, yang realistis. Insya Allah, dengan akhlak dan agamanyalah, seorang suami akan membawa istri dan anak-anaknya ke jalan yang diridhoi-Nya”, sahut bunda.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Aku terbangun setelah mendengar adzan shubuh itu.

“Astagfirullah, aku bermimpi”. Ku ucap istigfar setelah aku menyadari bahwa aku bermimpi. ‘Ya Allah, Kau telah memberi petunjuk-Mu’, dalam hati kubersyukur. Walau keheranan menghinggap pikiranku, karena mimpi yang alami adalah kejadian ketika bunda memberiku nasehat pada saat pertama kalinya seorang lelaki melamarku. Mungkin itulah cara Allah mengingatkanku. Tanpa ragu aku segera berwudhu guna menunaikan sholat shubuh.

Kesunyian malam mulai sirna dalam rumahku. Ayam jantan pun mulai memanggil penduduk semesta untuk bangkit dari diamnya jasad, berbuat demi kelangsungan kehidupan.

Ayah, bunda dan Fariz, adikku satu-satunya yang masih saja terus bergelut membangun sebuah usaha dengan konsep e-commerce, walau ia juga masih menempuh pendidikan strata 1-nya, baru saja menunaikan sholat shubuh berjamaah. Aku biasanya juga ikut serta berjamaah bersama mereka. Tapi karena peristiwa semalam, pagi ini aku sengaja menunaikan sholat sendiri dikamarku.

“Assalamu ‘alaikum”, suara bunda terdengar didepan pintu kamarku.

“’Alaikum salam”, jawabku. Kulihat bunda datang ketika aku hendak membuka mukenaku.

Bunda memang sering mendatangi kamar anaknya, terutama ketika diketahui anaknya dikamar tetapi tidak ikut sholat berjamaah. Ayah dan bunda memang membiasakan keluarga untuk sholat berjamaah dirumah. Walau hanya aku dan bunda dirumah, karena ayah dan Fariz sholat berjamaah di masjid, hal itu seperti sudah menjadi kewajiban. Apalagi ketika seluruh anggota keluarga sedang tidak kemana-mana.

“Ada apa nih?”, bunda bertanya padaku dan langsung menghampiriku.

“Ngga ada apa-apa, kok, bunda.”sahutku.

“Yang bener?”, tanya bunda kembali.

Begitulah bundaku. Seorang ibu yang sangat luar biasa. Selalu tahu jika anaknya menghadapi masalah. Walau aktifitasnya tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, karena beliau juga merupakan Dekan sebuah fakultas pada sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka, beliau tetap selalu meluangkan waktu memperhatikan anak-anaknya.

“Bener, bunda”, jawabku.

“Ya, udah. Kalau gitu bunda tunggu didapur, ya”, ucap bunda sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku hanya mengangguk-angguk saat itu, sambil melihatnya berlalu meninggalkan kamarku. Aku sengaja menahan dulu bercerita tentang apa yang aku alami semalam. Aku ingin merasa yakin dulu sebelum aku bicara dengan ayah dan bundaku.

Kutinggalkan kamarku sehabis sejenak kuatur kembali beberapa atribut kamarku yang berantakan. Kulihat ayah sudah mulai sibuk dengan laptopnya. Ayah memang sering seperti itu. Beliau termasuk lelaki yang workoholic. Bunda sering agak keras, ketika ayah tetap sibuk dengan pekerjaannya walau sudah larut malam. Tidak jarang aku lihat ayah harus begadang sampai shubuh untuk bekerja. Ayah merupakan salah satu direksi di perusahaan multi nasional yang beliau bangun bersama rekan-rekannya. Selain itu, beliau juga menjadi salah satu staf pengajar disalah satu perguruan tinggi swasta di kota ini yang memang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Beliau memang sosok yang ulet. Semua hal ingin diketahui dan dipelajarinya, apalagi yang menyangkut teknologi. Walaupun bidang pekerjaannya lebih kepada masalah komunikasi dalam pemasaran tetapi filsafat, sastra bahkan politik menjadi daya tarik tersendiri baginya. “Yang penting kita memahami esensi dasarnya. Kalau ada masalah, setidaknya kita tahu kenapa hal itu bisa terjadi”, ujar ayah suatu ketika saat aku menanyakan alasan beliau belajar berbagai macam hal.

Tidak cuma dengan pekerjaannya saja ayah sibuk. Beliau sering juga meluangkan waktu berkumpul dengan teman-teman lamanya semasa SMU dulu. Bahkan selang waktu beliau juga tetap menjalankan hobi beliau sejak remaja dulu, yaitu hiking. “Ya, kita kan perlu refreshing”, jawab ayah kalau ditanya alasan mengapa terus melakukan hiking. Tidak jarang aku dan Fariz diajak hiking oleh ayah. Sebenarnya ayah pun sangat ingin bunda turut serta, tetapi karena alergi dingin yang dimiliki bunda, membuat bunda tidak dapat ikut. Aku ingat sekali 2 tahun lalu, ketika ayah, aku dan Fariz mendaki gunung Gede Pangrango. Betapa ayah pada saat itu bercerita bahwa beliau sering kali merasa bersalah ketika hiking karena meninggalkan bunda demi kesenangannya sendiri. Walaupun bunda mengijinkan tetapi rasa bersalah itu tetap menghinggapinya. “Habis mau gimana lagi, bunda kalian ngga bisa ikut, sih”, cerita ayah ketika itu pada kami.

Walaupun begitu, aku tetap melihat ayah sebagai sosok ayah dan suami yang baik. Perhatiannya padaku dan Fariz tidak pernah terlewat sedikit pun. Setiap malam selalu saja ada perbincangan diantara kami dengan ayah, tidak jarang ketegasan ayah terlihat pada saat itu. Meskipun diluar kota atau ketika harus pulang larut malam, komunikasi pada kami dan bunda tetap ayah lakukan. Bahkan kalau dengan bunda, intensitas komunikasinya seperti sudah menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi. Sejak dulu pun ketika aku dan Fariz mulai dapat ditinggal sendiri dirumah, ayah dan bunda sering jalan bersama sampai sekarang. Mereka sering nonton bioskop. “Untuk mempelajari teknik filmnya”, alasan yang mereka berikan pada kami. Padahal aku tahu mereka sering begitu untuk terus menjaga keharmonisan hubungan diantara mereka. Film memang merupakan salah satu bukti kehebatan ayah dan bunda ketika berkolaborasi. Salah satu aktifitas untuk menuangkan idealisme yang mereka miliki, ayah bunda sering membuat film independent bersama. Sudah lebih dari 15 judul film independent yang mereka hasilkan semenjak mereka menikah. Walau tidak semua masuk nominasi di beberapa festival film, tapi film yang dihasilkan menurutku sudah sangat bagus.

Ayah bundaku memang kombinasi yang unik. Seorang lelaki yang sangat menggemari kesederhanaan, pekerja dan pemikir keras dan tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Serta seorang wanita bersahaja, dengan kelembutan dan kasih sayangnya ia menegaskan prinsipnya. Aku teringat apa yang ayah sampaikan tahun lalu, ketika pernikahan ayah dan bunda memasuki masa pernikahan perak. Ayah bercerita bahwa ada 5 faktor pokok yang harus terus dipelihara dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelima faktor itu adalah komitmen, saling menghargai, komunikasi, sabar dan tawakal. Memang kelima factor itulah menurut pengamatanku yang membuat ayah bundaku menjadi pasangan yang patut diteladani.

“Lagi ada proyek apa nih, yah?”, tanyaku pada ayah setelah kuhampiri.

“Ngga ada apa-apa. Lagi mempelajari proposal aja. Kamu udah sholat belum?”.

“Udah. Proposal apa nih?”.

“Proposal rekonstruksi lahan perkebunan pasca gempa”, jawab ayah.

“Ooo… perlu bantuan ngga?”, tanyaku sambil kulihat tulisan di laptopnya.

Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Yang sudah master agro industi. Nanti kalau ayah udah mentok, ya. Konsultasinya gratis kan?”.

“Wah, kalau buat ayah, spesial discount seribu persen”, ucapku dengan penuh semangat.

“Wow. Oke”, sahut ayah sambil mengusap kepalaku. Tidak lama kemudian aku pun meninggalkan ayah dengan laptopnya.

Ternyata Allah telah memberikanku petunjuk-Nya. Puji syukur kupanjatkan dalam hati atas apa yang dilimpahkan-Nya padaku. Baik untuk saat ini maupun atas rahmat-Nya yang telah memberikan keluarga yang sangat luar biasa bagiku.

SELESAI.





Pernikahan

23 06 2008

Pernikahan, saat sepasang manusia berkomitmen menjalankan hidup bersama, membentuk sebuah institusi terkecil dalam struktur masyarakat dengan melahirkan generasi-generasi baru yang akan terus melanjutkan hidup. Pernikahan pun merupakan moment manusia memulai sebuah hidup baru karena dengannya manusia memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih disempurnakan, yaitu sebagai keluarga.

Oleh sebab itu, sering kali pemuda atau pemudi merasa perlu menunda pernikahan dengan alasan belum siap, terutama secara mental. Padahal tidak ada tolak ukur yang jelas mengenai batas kesiapan itu. Yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian. Dengan keberanianlah semua tanggung jawab dan kewajiban dijalankan dengan baik.

Pernikahan atau berkeluarga juga merupakan bagian dari tujuan hidup yaitu ibadah. Hingga dalam menjalankannya penuh dengan keikhlasan. Dengan begitu, keluarga juga memiliki kewajiban membawa pesan dakwah kepada masyarakat. Bahkan dengan kesatuan tujuan untuk ibadah, 5 faktor yang membuat keluarga menjadi harmonis pun akan timbul dengan sendirinya. Kelima faktor itu, yaitu :

- Komitmen

Komitmen merupakan titik awal dari sebuah pernikahan. Bahwa sepasang manusia akan menjalankan hidup bersama dan membentuk sebuah keluarga. Dengan komitmen yang terus dijaga, bagaimanapun kondisinya setiap pasangan berusaha terus menjalaninya bersama. Untuk itu, disinilah dituntut persamaan visi diantara keduanya.

- Saling Menghargai.

Dalam menjalani hubungan, tentunya harus didasari dengan rasa saling menghargai, tidak ada tindakan yang berkesan superioritas hingga tidak ada pihak yang tertindas. Masing-masing menyadari dan memahami hak dan kewajibannya. Dengan saling menghargai ego masing-masing pun dapat diminimalisir, hingga tercipta sebuah kompromi terhadap berbagai masalah.

- Komunikasi

Komunikasi dapat memperkuat hubungan. Masing-masing pasangan tahu dan mengerti apa dan bagaimana pasangannya itu. Berbagai permasalahan pun dapat dilebur bersama dan bahkan dapat diselesaikan bersama dengan komunikasi.

- Sabar

Manusia tidak ada yang sempurna. Terkadang terdapat hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka dibutuhkan kesabaran untuk menghadapinya.

- Tawakkal

Selalu memohon petunjuk pada Yang Maha Besar.

Dengan ke-5 faktor tersebut serta keikhlasan beribadah, pernikahan akan mewujudkan sebuah keluarga yang mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat sebagai wujud penyampaian dakwah. Bahkan dalam hal regenerasi, keluarga memiliki tanggung jawab untuk mencetak generasi-generasi baru yang cerdas dengan akhlak yang mulia.